7 Cara Belajar Jelajah Kota Bersama Anak


Anak Anda suka jalan-jalan dari lokasi satu ke lokasi lain? Senang berkumpul dengan teman-teman? Mudah berteman dengan siapa saja? Senang membaca peta? Suka mengelola jadwal? Senang menuliskan catatan harian? Aih, sesuatu loh itu, mak.

Tiba-tiba saya teringat satu ayat seperti ini :

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ


Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS:Ar Rum :9)


Yup, ayat di atas adalah salah satu penyemangat saya saat bepergian bersama keluarga. Intinya, jangan asal bepergian saja tanpa memiliki tujuan dan ada pembelajaran yang bisa diambil, itu juga kata ibu saya. Jalan-jalan, atau bahasa saya, jelajah kota, sudah menjadi kesenangan saya sejak kecil. Kedua orang tua saya nyaris setiap libur sekolah selalu mengajak kami sekeluarga pulang kampung dari Depok ke Malang, Jawa Timur. Atau Depok ke Brebes, tempat kelahiran alm. bapak. Sepanjang jalan saya mencatat nama-nama kota bahkan kecamatan yang kami lalui dan bertanya ini itu ke bapak atau ibu.  Lokasi SMP hingga kuliah pun ada di Jakarta, sebuah kota besar dengan kerumitan jalanannya. Jelajah dan kekepoan saya tentang jalan dan daerah semakin memuncak. Setiap pulang sekolah saya selalu naik kendaraan umum yang berbeda rute untuk mencapai Depok. SMP saya di daerah Utan kayu, Jakarta Timur, SMA di dekat Blok M, Kuliah di Rawamangun. Nglotok sikit lah saya daerah timur, pusat dan selatan plus angkutan umumnya.


Saya makin sadar hingga saat ini, bahwa betul, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Anak itu bagaimana orang tuanya. Ternyata, kedua anak saya pun suka sekali dengan jelajah kota, sama seperti saya dulu. Rekam jejaknya terlihat saat mereka tahu kapan hari libur, tanggal merah yang jejeran di kalender dan libur sekolah (keknye semua anak kek gini ya. hahaha). Tapi saat itulah mereka sudah meng arrange mau jelajah kemana, naik apa, bertanya berapa lama perjalanan menuju ke sana dan banyak nanya saat kemudian membaca peta. Tak hanya itu, mereka berdua keren banget dalam mengenal jalan atau lokasi. Kemampuan spasialnya melengkapi saya dan ayahnya saat di jalan.  Dan itu makin terasah saat kami tersesat ga bisa keluar dari kota tertentu. Berpegang pada simbol-simbol lalu lintas, bangunan tertentu di sudut jalan atau ada tanda unik di sepanjang jalan bisa menjadi bantuan arah buat mereka. Ada anak emak yang kek anak saya ga? Catat, deh mak. Penting ituuh.Hehehe.


Peta Jawa, Bali dan Sumatera pemberian PT Jasa Marga jelang liburan bisa didapatkan dengan mudah saat itu di setiap pintu tol dalam dan luar kota. Ga tau kalau sekarang apa masih ada atau  ga ya. Dan ini bisa menjadi diskusi menarik kami setiap jelajah kota. Saat itu belum ada GPS, ya, mak. Modalnya mulut aja nanya ke orang lewat. Ini lebih seru dan menantang. 


Saat mengamati kemampuan anak-anak akan daya jelajahnya yang kian meluas, kekepoan tingkat dewa akan suatu daerah menjadi penunjang berikutnya. Akhirnya kami rutinkan jelajah kota ala kami. Mungkin Emak yang memiliki anak yang senang ngayap, senang bertanya akan sesuatu, suka membaca peta atau simbol tertentu, hapal jalan tertentu, bisa diasah dan dicoba bareng mereka dalam beraktifitas loh. Ini yang kami lakukan bersama mereka saat jejak ngayap-nya makin terlihat. Selamat mencoba.


1. Buat tahapan jelajah yang disesuaikan dengan usia anak bersama suami

Mak, jujur neh, saya ga ngerti teori psikologi dan sejenisnya terkait tahapan ini. Sederhananya, melakukan sesuatu dengan anak itu dimulai dari lingkungan yang paling dekat. Jadi, yang saya lakukan hanya mengobservasi, mencatat lalu mengikuti rasa ingin tahu anak. Lalu kami, saya dan suami, belajar mengejawantahkan ke dalam aktifitas real. Maka dibuatlah pengalaman langsung mereka dengan menjelajah bersama saya dan atau suami.


Contoh, sulung saya saat SD level bawah sedang senang-senangnya bersepeda keliling perumahan sampai ke perumahan sebelah. Dari pada ia 'hanya' muter-muter yang menurut saya ga jelas tujuannya. Akhirnya saya tambahkan keseruan jelajah. Saya beri ia peta lokasi tertentu dekat rumah. Saya minta ia ke lokasi itu untuk mengambil sesuatu. Mengenalkan peta sederhana dengan icon-icon tertentu yang lucu, mengenalkan perempatan, pertigaan, aturan berlalu lintas hingga adab bertamu masuk di situ semua.


Jelajah yang sering kami lakukan adalah jelajah kota atau desa yang dimulai dari lingkungan terdekat. Saat usia balita, menjelajah area komplek rumah, kenalan dengan tetangga depan, belakang, kanan dan kiri rumah. Kalau sudah 'berani', sedikit lebih jauh dengan berjalan kaki. Lanjut naik kendaraan umum satu kali naik dan seterusnya.  Jadi murah meriah. Kalau saya siih, lebih suka ngajak anak-anak naik transportasi umum, karena banyak sekali yang bisa 'disuntikkan' pada mereka selama perjalanan.


img-1556279254.jpg

Keseruan saat si Bungsu (tengah) naik truck bersama sepupu



2.  Buat kesepakatan di awal BERSAMA anak

Kenapa kesepakatan harus dilakukan di awal? Aiih, ini pertanyaan yang selalu ditanya anak-anak. Biasanya saya hanya akan menjawab, agar perjalanan kita hari ini seru dan bisa saling mengingatkan sesuatu kalau ada yang lupa. "Sesuatu apa, Bun?" Nah, inilah saatnya  emak memasukkan kesepakatan perjalanan. Karena namanya kesepakatan, maka harus disepakati bersama. Saat membuat kesepakatan, anak-anak suka mau 'enaknya aja' yang menguntungkan mereka. Misal, boleh jajan makanan tertentu kalau waktunya makan siang.


Maka sebaiknya emak sudah punya beberapa kesepakatan penting yang akan dilempar jadi bahan diskusi ke anak-anak. Yuk, diintip kesepakatan yang pernah kami buat, misalnya :

1.  Sepakati daftar bawaan anggota keluarga yang dibawa masing-masing 

2. Sepakati jam keberangkatan, kalau ada yang terlambat alias belum siap, apa konsekuensinya? 

3. Selalu ijin bila ingin pergi agak jauh dari ayah dan bunda.

4. Sepakati titik pertemuan bila terpisah. Ini disampaikan bila sudah fix daerah jelajahnya.

(tentang hal ini anak juga harus dibekali bagaimana cara menjaga diri sendiri, harus bertemu siapa saat tersesat dan tidak boleh mengeluarkan kartu nama ayah bunda kecuali pada petugas keamanan-saya selalu menyelipkan kartu nama kami di saku anak-anak bila bepergian).


Sebagai tambahan, biasanya kami mempersiapkan satu ransel yang dibawa oleh saya atau ayahnya bila memilih menggunakan angkutan umum. Anak-anak diberi tanggung jawab membawa tas kecil sendiri hanya berisi air minum dan snack ringan.

Berikut ini bawaan dan ondol-ondol dalam ransel/backpack yang dibawa oleh saya atau ayahnya :

1.  Baju ganti lengkap

2. Obat-obatan selama perjalanan (minyak kayu putih, plester penutup luka dan minyak untuk luka luar)

3. Air minum 600 ml, buah-buahan segar (biasanya membawa jeruk, anggur dan salak) dan roti sobek atau biskuit
4. Buku cerita yang berhubungan dengan rute perjalanan. Misalkan kita akan jelajah ke daerah yang melewati pabrik, maka buku tentang apa dan bagaimana pabrik itu-lah yang dibawa.

5. Buku tulis, buku mewarnai atau buku yang disukai anak beserta crayon/pensil warnanya. Untuk mainan kesukaan anak, dibawa anak-anak sendiri di tas kecil yang dibawanya.

6. Sapu tangan, tissue basah, plastik kecil untuk tempat sampah.


3. Sepakati pemimpin jelajah-kepala suku

Hehehe, ini mah saya aja yang buat seru-seruan segala ada kepala suku. Tujuannya selain bikin anak hepi sebelum, selama dan setelah perjalanan, sebenernya juga menyelipkan banyak hal sebagai kepala suku nanti. Karena previlage kepala suku yang paling disenengin anak-anak adalah boleh menentukan tujuan/lokasi jelajah yang diinginkan, menyesuaikan tahapan saat itu ya. Apakah jelajah komplek, kota, tema danau di sekitar rumah dan sebagainya. Beberapa pilihan lokasi jelajah nih yang aman dan ramah anak :


1. Taman kota

img-1556280131.jpg


2. Kebun raya

3. Danau dekat rumah

img-1557110459.jpg


4. Melihat petani bekerja di sawah/ladang, ajak saat pagi tiba. Bahkan bisa ikut terlibat dengan petaninya. 


  img-1556279524.jpg

 Lokasi persawahan di belakang rumah eyang


5. Mendatangi museum 

Sebelum mendatangi museum atau lokasi tertentu, saya dan ayahnya seudah membekali anak-anak sepanjang perjalanan tentang apa dan bagaimana museum itu. Ada apa saja di dalamnya, dan apa tujuan kita ke museum. Menyewa guide museum sering kami lakukan, terutama saat kami akan mensinergikan mata pelajaran anak-anak di sekolah. Mereka kita bekali dengan semacam lembar kerja sederhana yang menyulut pertanyaan dari anak-anak.

img-1556280206.jpg

Istana Maimun, Medan

6. Melihat budaya suku lain

img-1557110818.jpg

Bersama temannya saat backpackeran ke Penang, mencoba pakaian china



7. Mengunjungi peninggalan sejarah seperti candi atau bangunan tua

img-1556280368.jpg

Saat si Bungsu (kerudung putih) jadi kepala suku, ia memilih lokasi ini



8. Pantai, gunung atau air terjun

img-1556280459.jpg

Cuban Rondo dipilih saat si sulung jadi kepala suku perjalanan mudik ke Malang


Kami meminta sang kepala suku sudah menyiapkan sedikit informasi mengenai lokasi yang akan dikunjungi dan mempresentasikannya (keren banget, padahal maksudnya siih, menceritakan detil ya, mak. Tapi beneran, kami menggunakan kata presentasi, agar anak-anak betul-betul merasakan proses kerennya perjalanan) pada kami semua. Makin bertambahnya usia, saya dan ayahnya meminta mereka menceritakan dalam bentuk digital jadi terbayang seperti apa lokasinya nanti. Saat ada yang belum diketahui, kami akan mencari bersama-sama di buku atau internet saat kepala suku mengajukan lokasi perjalanan. Ini yang kemudian membuat anak-anak tahu arah dan tujuan perjalanan mau dibawa kemana.


4. Manfaatkan waktu selama perjalanan

Apa yang bisa dilakukan selama perjalanan? Wuiih, buanyak mak. Sederhananya, jangan biarkan anak berdiam diri melihat kanan kiri perjalanan. Itu telinganya 'nganggur', bisa kita manfaatkan dengan menerjemahkan apa yang ia lihat, mendiskusikan dan mengambil insight saat melihat bapak tua menyebrang sendiri membawa jualan pikulannya atau buka obrolan tentang sesuatu yang anak-anak suka. Yang seru itu saat macet kalau pas naik transportasi umum. Sambil mengeluarkan amunisi yang kita bawa, buku dan buah adalah teman perjalanan yang kebetulan anak-anak suka. 


5. Libatkan anak dalam proses selama perjalanan
Bagaimana maksudnya? Jadi, selama jelajah kota misalnya, libatkan anak untuk melakukan transaksi pembayaran sendiri. Bekali ia dengan uang pas untuk ditukar dengan karcis atau dibayarkan kepada pak supir. Di kondisi lain saat sudah sampai di lokasi tujuan, selain bermain, minta ia menemukan beberapa hal unik lalu ceritakan atau cari tahu ke petugas di sana. Atau kunjungi peta lokasi atau papan informasi yang biasanya ada di titik-titik tertentu. Minta anak-anak memutuskan akan mengunjungi lokasi mana dulu di lokasi tersebut. Kemampuan memilih, memutuskan serta membaca simbol pada peta akan banyak sekali terasah di sini sebelum kemudian beralih membaca GPS.


6. Selalu siapkan rencana cadangan
Entah hujan, macet atau lokasi yang ingin dikunjungi tutup, maka sebaiknya kita punya rencana B. Terkait rencana cadangan, ingatkan juga pada kepala suku akan hal ini. Mempersiapkan hal-hal yang tidak diinginkan atau berhadapan dengan sesuatu yang tidak sesui dengan rencana, akan membuat anak bersiap menghadapi kemungkinan lain. Biarkan anak yang memutuskan bila sudah bisa diajak diskusi.


7. Selalu kunci dengan agama
Pulang dari jelajah ke mana pun, lakukan apresiasi pada anak-anak saat kita menemukan yang memang harus diapresiasi. Lalu gali bagaimana perasaan mereka selama perjalanan, apa yang paling membuat mereka senang, apa yang perlu diperbaiki dari pilihan perjalanan atau apa yang membuat mereka justru tidak senang. Jangan lupa untuk mengunci obrolan setelah pulang dari jelajah, dengan refleksi. Bentuknya bisa macam-macam, bisa dalam bentuk cerita, gambar atau video (sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak) yang disampaikan oleh mereka sendiri. Lakukan hal ini esok harinya saat sedang santai dan duduk bersama. Kita akan takjub dengan apa yang akan mereka sampaikan. Kadang banyak hal yang terlewat tak kita sadari bahwa mereka bisa seperti itu. 


Saat tahapan sudah dilewati, ragam aktifitas belajar jelajah sudah kita kenalkan, maka kita bisa beranjak pada keseruan berikutnya. Bila anak terlihat makin berbinar dan enjoy melakukannya, tak ada salahnya memberikan tantangan, loh. Misal, bisa mengajak temannya naik kendaraan umum satu kali rute. Lalu bertahap ijinkan ia untuk naik kendaraan umum sendiri. Kemampuan ini berkaitan dengan banyak hal yang harus disiapkan. Lagi-lagi tergantung kesiapan anak dan kita melepasnya. Hehehe.


Nah, bila tantangan itu berhasil beberapa kali, minta ia untuk mengelola perjalanan pendek keluarga atau perjalanan jauh keluarga. Contoh, saya memberikan kepercayaan kepada si bungsu yang sudah kelas 11 untuk mengelola perjalanannya saat mengunjungi kakaknya di Surabaya. Sepanjang perjalanan Bogor-Surabaya ia yang menentukan mau 'mampir' dan belajar apa di sepanjang jalan Jawa. Pantai, goa, masjid atau candi. Tiket, hostel dan tempat makan pun ia yang pesan. Uang yang ada, si bungsu yang mengelola. Kurang? ia belajar menyelesaikan sendiri. Hahaha


img-1556281134.jpg
Titik kumpul dengan kakaknya di stasiun Gubeng. Saat si bungsu mau live in di Tanoker, Jember

Tak berhenti sampai situ, mak, ternyata kita tak bisa membendung rasa ingin tahu anak akan dunianya. Yup, dunianya yang makin terbuka dengan mudahnya akses informasi di genggaman tangan. Maka, kekepoaannya berlanjut hingga kemudian ia ingin menjadi warga dunia. Begitu ia menyebutnya. Gayung bersambut, tempat Homeschoolingnya memiliki pembelajaran manajemen travelling. Makin senang lah mereka berdua. Ketambahan lagi, daya jelajahnya sudah tak hanya pijakan negaranya saja, tapi hingga ke negara ASEAN. Mereka menjelajah sendiri bersama teman-temannya. Mulai dari mengurus pasport dengan cara ini , mengelola perjalanan, mencari hostel, lokasi kunjungan, transportasi dan sebagainya mereka lakukan sendiri. Aiih, saya senang saat matanya berbinar  sambil menyerahkan proposal perjalanannya pada kami, saya dan ayahnya. 

img-1556281841.jpg
Vietnam tahun lalu

img-1556281883.jpg
Thailand

Dan hari ini, 26 April 2019, mendapat kesempatan belajar backpacker-an membawa rombongan SD-SMP 16 anak ke penang selama 4 hari bersama teman dan fasilitatornya. Kekuatannya mengelola perjalanan menjadi nilai plus yang diuji saat membawa rombongan ini ke luar negeri. Yang seru dan anak akan mendapatkan banyak insight perjalanan adalah, lokasi yang akan dikunjungi itu belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Di situlah seluruh pengalaman dari masa kecilnya sampai saat itu teruji.

img-1557114678.jpg
Si Bungsu (berdiri, paling kiri) bersama rombongan

Jangan tanya gimana rasanya melepas anak gadis melakukan perjalanan ya, mak. Sebetulnya, deg-deg-an saya saat itu tuuuh, belum selesai, karena sebelum berangkat ke Penang, ia sudah mengajukan proposal next trip  mandiri ke Jepang bersama sahabatnya. Jepang adalah  negara yang memang menjadi salah satu tujuan di mimpinya selain Makkah. Akhir Oktober-November 2019 nanti akan jelajah belajar back-packeran dan open trip ke sana. Setelah nyaris satu bulan ini dibuka, seat sudah melebihi kuota. Bahkan ada beberapa emak-emak sudah booked tanggal untuk nge trip bareng. Masya Allah. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam proses belajar ini.

img-1556282389.jpg


Entah lah, saya hanya percaya, jangan meremehkan kesukaan anak akan sesuatu. Dengan modal mengamati dan mengenalkan anak pada banyak kegiatan yang berhubungan dengan yang ia suka, banyak jalan kemudahan terbuka. Bukan hanya anak yang belajar, tapi saya dan ayahnya pun belajar banyak. Itulah mengapa anak adalah guru terhebat di dunia. Tinggal kita-nya mau membuka diri atau tidak.
Selamat menjelajah minat dan bakat anak ya, mak.


  • Selasa, 23 April 2019

Artikel Terkait

Begini Jadinya kalau anak perempuan live in
Begini Jadinya kalau anak perempuan live in
Kebiasaan ini bisa menular
Kebiasaan ini bisa menular
Mengkokohkan Pola Kebiasaan Membaca Pada Anak Remaja
Mengkokohkan Pola Kebiasaan Membaca Pada Anak Remaja
Cara Mengamati Minat Bakat Anak
Cara Mengamati Minat Bakat Anak
Persiapan Backpacker Menuju Jepang-Membuat E-Passport
Persiapan Backpacker Menuju Jepang-Membuat E-Passport
Kecerdasan Interpesonal
Kecerdasan Interpesonal

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar