Berkarya Bersama Keluarga
Rabu, 14 Oktober 2020
azkail
Bagikan

Berkarya Bersama Keluarga

Mulailah dari apa yang kau punya.

Gunakan apa yang kau miliki saat ini

Dan lakukan apa yang kau bisa

-Arthur Ashe-Petenis Amerika


Kalimat di atas benar-benar membuka mata saya saat itu untuk berani mengambil langkah pertama tentang karya bersama. Berani segera bertindak atas apa yang pernah diimpikan. Kalimat yang disampaikan petenis Amerika itu sederhana, mulai saja dari sesuatu yang terdekat dengan yang kita miliki. Tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu. Karena kalau kebanyakan mikir, bisa ga mulai-mulai. Terlalu banyak khawatir, bisa membuat ketakutan ini itu malah bisa membangun benteng tinggi untuk diri kita sendiri. Yang menjadi tantangan, justru kemauan untuk segera memulai. Akan selalu ada langkah pertama untuk memulai sesuatu. Dan Langkah pertama untuk fokus melangitkan karya bersama itu adalah saat berada di institut ibu profesional.


Berangkat dari dorongan kalimat Sang Petenis Legendaris itu, saya memberanikan diri untuk fokus dalam melangitkan karya sederhana. 


Bersyukur banget menemukan sebuah lingkungan baru yang mendukung kegiatan keluarga. Bahagia banget menemukan banyak teman di lingkaran kebaikan yang saling membantu satu sama lain. Makin banyak mentor-mentor kehidupan yang bisa diajak kolaborasi baik. Seru saat kita bisa saling memahami kebutuhan masing-masing keluarga. Dan saya menemukannya di komunitas ini, di komponen Institut Ibu Profesional.


Awal perkenalan

Sejak 2015, saat si sulung minta untuk sekolah di rumah bersama kami, berkas pendaftaran di SMA negeri pun kami tarik kembali. Kami buta tentang homeschooling usia SMA, maka cara termudah pertama mencari tahu adalah melalui dunia maya. Tak hanya butuh referensi seperti apa dan bagaimana HS itu, namun pengelolaan keluarga yang memiliki anak HS usia SMA pun saya perlu tahu. Setelah berselancar sana sini sono, ketemulah ya saya dengan sebuah keluarga HS yang unik. Tiga putra putrinya diberi kebebasan dalam belajar. Gurunya tersebar di banyak tempat. Projek dan tantangan yang diberikan pada anak-anaknya pun menarik untuk terus ditelusuri. Ya, itulah keluarga pak Dodik Mariyanto dan bu Septi Peni Wulandani.


Wah, bagaimana agar saya bisa terus mengikuti keseruan keluarganya ya? Berselancar terus lah saya saat itu, hingga akhirnya menemukan bahwa ternyata bu Septi memiliki sebuah komunitas pembelajar bagi perempuan. Ketika menyelam lebih dalam lagi seperti apa komunitas itu, ternyata komunitas yang memberikan wadah belajar mendidik anak/keluarga dan menguatkan diri bagi perempuan dan ibu yang dimulai dari diri sendiri dan dari rumah. Menarik. Mungkin ini yang saya butuhkan.


Tahun 2016 saya masuk ke dalam komunitas itu. Ada tangga belajar yang ditawarkan bagi calon mahasiswa (sebutannya keren, mahasiswa, berasa bener kuliah lagi). Tangga pertama saya ikuti selama 9 minggu. Kemudian naik ke tangga berikutnya. Makin seru? Iya kah? 


Cek di sini

untuk tahu ada program belajar apa saja di institut ibu profesional ya

Nah, saat masuk ke kelas bunda sayang di permainan level kedua, tema kemandirian anak, semangat saya mulai kendor. Plattform belajar yang saat itu menggunakan WAG, mulai terasa bukan wadah belajar yang saya butuhkan saat itu. Materi yang diberikan sudah ok banget, tapi saat diskusi di WAG,  seringkali yang dibahas adalah masa yang saya sudah lewat jauh. Perlu mengernyitkan dahi agak lama untuk mengingat masa-masa itu. Banyak istilah kekinian yang bikin saya jadi sering-sering browsing. Alhamdulilaah. Hihihi. Kudet bet dah pokoke akutuuu. Mahasiswa di WAG saat itu banyak mendiskusikan tentang kemandirian toilet training hingga melatih anak makan sendiri. Duh yaa, bikin saya mojok di pengkolan, mak. Hahaha. Padahal, saat itu saya lagi butuh wadah untuk berdiskusi tentang anak yang seusia dengan anak saya. 


Saya pun memutuskan mundur cantik dari institut ibu profesional (IIP) itu.


Tapi kemudian saya pun kembali ingat tujuan awal saya bergabung di IIP. Sudah kepalang basah kenapa harus keluar dari kolam? Kenapa ga ikut berenang dengan gaya yang berbeda untuk menuju tujuan?


FYI, saya ikut kelas bunda sayang angkatan pertama. Maka wajar buat saya kalau ada yang perlu diperbaiki di sana sini. Dari pada saya mojok di pengkolan ga guna, akhirnya saya memutuskan untuk lanjut dengan cara saya.


Permainan pun dimulai

Di setiap materi tiap levelnya, kami, para mahasiswa diberikan tantangan untuk melakukan sesuatu. Lalu membuat jurnal harian tentang proses yang dilakukan selama melakukan tantangan itu. Awalnya agak bingung melakukan tantangannya, karena dari hasil diskusi dan banyak contoh yang diberikan adalah contoh aktivitas tantangan anak balita dan SD. Dari pada saya terus-terusan mojok di pengkolan, saya buat tantangan menjadi peluang. Saya lebur tantangan permainan di perkuliahan itu ke dalam projek anak-anak yang sedang berlangsung. 


Misalnya saat tema kemandirian anak tadi, saya masukkan kemandirian dalam mengelola waktunya anak-anak akan projek yang sedang mereka lakukan. Fokus saya pada projek anak-anak tanpa menghilangkan kebutuhan melihat kemandirian yang dilebur tadi. Beruntung sekali tidak ada batasan tugas dari IIP. Kami diberikan kebebasan untuk melakukan tugas itu selama berkaitan dengan tema yang diberikan. Bersyukurnya lagi, setiap selesai melakukan tantangan, saya bisa melanjutkan mengisi secara periodik, rekam jejak anak-anak di blog. Bekal saya dan keluarga untuk menemukan kepingan puzzle-puzzle kehidupan.


Alhamdulilah, saya bertahan hingga tahap kelas bunda produktif saat ini. Semua tantangan yang diberikan setiap materi perkuliahan, saya lebur ke dalam projek anak-anak atau projek keluarga. Selalu ada peran dan ruang belajar untuk mamak-mamak seperti saya di IIP. Itu yang membuat saya bertahan hingga saat ini. Dua tahun kebelakang ini, saya memberanikan diri untuk ikut ambil peran dalam struktur organisasi IIP. Mungkin ada mamak-mamak seperti saya yang tetap butuh wadah belajar walaupun usia anak-anak masuk ke etape dewasa muda.


Apa saja sih projek keluarganya?

Mak, jangan bayangin yang susah-susah macem di perusahaan tentang projek ya. Hihihi. Bahasa sederhananya sih main bareng yang bermakna gitu deh. Saat itu, kalau anak-anak mau main sesuatu, saya akan membuat permainan itu menjadi treasure hunt, tebak benda atau keseruan lain mencari ini itu yang di kepo in anak-anak. Kami buat rencananya bareng, bikin timelinenya dan dikerjakan deh. Terakhir biasanya ditutup dengan makan bareng di luar atau jalan-jalan.


Nah, makin besar anak makin ketemu muara atau rumpun keberminatan mereka akan satu aktivitas. Saya dan suami hanya memberikan pemantiknya saja, memberikan gambaran saat mereka sedang kepo akan sesuatu. Mereka jadikan itu sebagai aktivitas seru yang akan mereka selesaikan tantangan ke kepo annya. Berkaitan dengan perkuliahan saat itu yang saya lebur ke dalam projek anak-anak, lahirlah rumpun aktivitas projek keluarga. Projek keluarga inilah yang kemudian saya mulai fokus untuk mengelolanya.


Ini dia projek keluarga kami di rumah azkail, silahkan cek di sini


img-1602646132.jpg


Efek baik mengikuti perkuliahan di Institut Ibu Profesional adalah, projek yang kami lakukan makin terstruktur, fokus dan konsisten.


Bulan lalu, IIP mengadakan kegiatan keren yang dibungkus dengan gamifikasi. Kegiatan yang memberikan wadah bagi seluruh member IIP yang sudah mengeluarkan dan atau yang akan menelurkan karya. Karya yang dimaksud itu berupa buku, jurnal, kegiatan sharing online atau offline dan lain sebagainya yang memberikan dampak bagi keluarga dan atau lingkungan sekitar selama mengikuti perkuliahan di IIP. Puluhan ribu member yang tersebar di dunia pun mulai mengikuti kegiatan ini. Mereka, termasuk saya, menginformasikan karya-karya apa saja yang kemudian muncul efek dari perkuliahan di IIP. 


Kegiatan ini diberi nama dengan jelajah gugus bintang yang akan berkaitan dengan #semestakaryaIIP2020. 


Mata saya terbelalak takjub luar biasa. Mata makin berbinar. Betapa banyak sekali ibu dan perempuan keren yang sudah menelurkan karyanya. Bahkan yang masih dalam tulisan rencana pun tak kalah kerennya. Ada yang sudah bersertifikat menggendong bayi dan sering berbagi pada lingkungan akan cara dan manfaat menggendong yang baik dan benar. Ada psikolog, dokter, analis keuangan dan puluhan ibu rumah tangga yang produktif berbagi. Mereka berbagi dari hal yang sederhana loh. Tapi dari kegiatan yang disuarakan itu, memberikan dampak baik dan luar biasa bagi keluarga mereka dan lingkungan sekitar.


Bayangkan mak, bila kemudian kita melakukan kegiatan positif berdampak baik ini secara simultan.


Dan itu dimulai dari rumah,  saling berkolaborasi satu sama lain. Kalau kita butuh ilmu tentang bagaimana cara mengolah sampah dapur yang baik dan benar, kita bisa minta salah satu dari member IIP untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Perlu diskusi dengan psikolog? member IIP punya. 


Mau tahu tentang parade karya para perempuan di IIP? Cek deh di IG nya  di sini


Apa sih yang didapat selama mengikuti jelajah gugus bintang ini?


Duuh, banyak banget mak

  • Pengalaman, pengetahuan dan pergaulan jelas bertambah. Saya jadi kenal banyak teman baru dari seluruh dunia yang memiliki ragam disiplin ilmu
  • Kesempatan belajar langsung dari praktisi dan penggerak kebaikan
  • Kesempatan berkolaborasi baik kepada sesama member 
  • Memiliki mentor-mentor terbaik di bidangnya

Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang mungkin kita anggap kecil itu ternyata bisa berdampak besar buat orang lain dan lingkungan sekitar. Dan jangan pernah mengerdilkan diri kita sendiri. Ingatkan bahwa Allah itu akan memberikan sesuai apa yang hambanya prasangkakan. Kalau kita menganggap diri kita remahan rengginang, maka selamanya kita akan menganggap seperti itu, tidak percaya diri atas apa yang kita miliki.


Apa yang akan dilakukan tahun depan ?

Aktivitas rumah azkail sempat terhenti selama pandemi, terutama yang offline. Berharapwabah corona segera berlalu, sehingga kami bisa mengadakan kegatan lagi.

Si sulung sedang fokus di pengayaan diri rumpun data analis terkait jenjang karir yang akan ditekuninya kelak. Sehingga hanya akan membuka kelas berbagi slide batch 16 secara online atau offline dengan jumlah maksimal 5-10 orang saja.

Si bungsu sudah mengarrange rencana backpackeran ke Korea dan Jepang untuk tahun depan. Kalau open trip seperti ini?, apakah Anda berminat, mak? Yuk, nabung sejak sekarang.

Terima kasih IIP yang sudah memberikan wadah kami untuk berkembang dan melangitkan karya.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar