Apa dan Bagaimana Magang untuk anak usia 16 tahun ke atas

" Saat usia 12 tahun atau lebih sedikit, Rosulullah sudah ikut berniaga bersama pamannya dan rombongan kaum Quroisy menuju negeri Syam."


Kisah ini begitu melekat pada ingatan kita tentang seorang pemuda yang ikut belajar berniaga dengan pamannya menuju negeri Syam. Dan di tengah perjalanan, seluruh rombongan beristirahat di sebuah desa hingga akhirnya bertemu dengan rahib yang menceritakan bahwa pemuda dengan ciri tertentu akan menjadi seorang nabi setelah Nabi Isa AS. Bukan tentang kisah kenabiannya yang akan saya garis bawahi. Bahwa ternyata sejak usia yang sangat muda, awal usia baligh, Nabi SAW telah dititipkan pada pamannya yang pandai berniaga untuk belajar banyak hal tentang hal itu.  Kalau zaman sekarang kita menyebutnya bahwa Nabi SAW itu sedang magang pada pamannya yang sudah hebat dalam perniagaan. 


Usia sekitar 12 tahun itu kan berarti anak SD kelas 6 atau SMP.  Artinya, anak usia segitu tuh sudah bisa belajar tentang kemandirian dalam kehidupan yang sesungguhnya pada orang yang ahli. Belajar memahami bagaimana sebuah perjalanan bisnis dilakukan sang paman menjadi bukti bahwa sebetulnya di usia seperti itu anak sudah bisa dikenalkan, diajari dan diberikan tanggung jawab layaknya orang dewasa lainnya. Lalu bagaimana cara kita melakukan hal seperti itu di zaman sekarang? Ga kebayang anak usia SMP sudah magang di perusahaan tertentu. Apa nanti ga  kena aturan karena mempekerjakan anak di bawah umur? Atau bagaimana sebetulnya magang yang dilakukan Rosul saat itu?


Kalau mendengar kata magang, yang ada di kepala kita langsung tergambar anak SMK/yang setara, siswa kelas akhir sedang melakukan pekerjaan di perusahaan tertentu sebagai bagian dari tugas akhir sekolah. Dan biasanya yang sering kita temui, mereka ada di bagian administrasi, bantu pegawai perusahaan untuk urusan input data, foto kopi berkas atau pernah saya lihat anak-anak itu disuruh membelikan makan siang pegawai. Seperti itukah yang terbayang magang saat ini? 


Tadi pagi saya berkesempatan mengikuti kuliah whatsapp yang diadakan ABHome dimana anak-anak saya belajar. Judulnya sudah menggelitik bagi sebagian orang, yaitu magang untuk anak usia 16 tahun ke atas. Magang? yup, magang, mak. Ikut kulwap ini membuat saya merefresh kembali apa yang pernah kami lakukan pada anak-anak untuk kemudian merencanakan dan belajar memperbaiki langkah berikutnya. Termasuk menyimpan kisah dan prosesnya di blog ini. Kulwap pagi tadi mengajarkan tentang apa dan bagaimana magang agar bisa kita lakukan pada anak. Seru. Tapi sebelum masuk ke pembahasan, kami, para peserta diberikan materi awal tentang apa itu magang level 3. Oia, kebetulan karena anak-anak saya sudah di atas 16 tahun, maka saya hanya ikut kelas kulwap magang level 3. Gayung bersambut, biar perserta ga  bingung, di grup itu kami dikenalkan apa itu magang level 1 dan level 2. Ini dia gambaran awalnya.


img-1543497596.jpg

Pembagian leveling magang untuk anak

Magang yang dijabarkan tadi pagi itu bukan seperti magang yang pernah saya lihat di beberapa perusahaan yang saya gambarkan di atas ya, mak. Tetapi magang yang kekinian, magang yang terstruktur dan memiliki tujuan yang jelas plus bermanfaat untuk perkembangan anak. Magang yang akan mengenalkan pada anak sesungguhnya terkait apa sih sebetulnya potensi yang mereka punya. Sehingga saat mereka magang, belajar dan terjun langsung ke sebuah profesi itu, memang akan membuat mereka menikmati. Mereka mudah mengerjakannya sehingga bisa menjadikan mereka tambah ahli dan faham akan potensinya. Yang ujungnya adalah anak mampu menghasilkan sesuatu, baik menghasilkan sebuah produk, jasa bahkan materi. Menarik ya. Bahwa kalau proses magang itu bisa kita strukturkan dengan baik dan sesuai dengan minat anak, tentu akan membawa titik terang mengenai apa yang anak inginkan, bukan apa yang sekolah atau orang tua inginkan.


Usia SMA adalah saatnya meningkatkan pemahaman tentang karir yang dikaitkan dengan minat, bakat dan pengalamannya.  Untuk mengenal apa minat dan bakat, ABHome menggunakan tools Talent Mapping yang dikembangkan oleh Abah Rama Royani. Dengan bantuan tools itu, kita menjadi fokus pada kekuatan yang dimiliki anak. Kalau sudah fokus pada kekuatan, maka akan jauh lebih mudah merancang aktivitas magangnya.


Ini penampakan salah satu hasil TM anak saya. Dalam TM kita diajarkan untuk memaksimalkan kekuatan dan mensiasati kekurangan. Maka dengan melihat hasil ini, lakukan 3B saja pada anak-anak. 

1. Banyak melakukan aktifitas

2. Banyak bertemu dengan orang

3. Berulang-ulang dilakukan


img-1543502322.jpg

Fokus pada kotak yang berwarna merah lalu kuning jauh lebih mudah


Kita mundur sedikit tentang magang ya. Magangnya level 1 dan 2 itu berkelompok, durasinya pun 3-14 hari, tergantung kesiapan anak dan frekuensi pengalaman magang sebelumnya.  Sedangkan magang level 3 ini, merupakan magang yang bersifat individual, sudah menjurus ke rencana karirnya dan area potensi pilihan tempat magangnya pun makin spesifik. 


Magang individual akan berhasil bila kita telah selesai mengenalkan anak pada magang level 1 dan 2 dengan baik. Di mana anak belajar langsung pada ahlinya dengan berkelompok bersama teman. Area peminatan pada level 1 baiknya ada di area yang terdekat dengan anak. Hasil keringatnya saat ia belajar dengan ahlinya, langsung bisa dilihat dan dirasakan. Misalnya, anak langsung belajar ke area kuliner, sesuatu yang memang disukai anak.


Saya jadi teringat beberapa tahun lalu mengikut-sertakan Azkail pada tempat ketring teman untuk belajar langsung bareng teman-temannya. Belajar naik angkot sendiri ke lokasi ketring, belajar menyajikan makanan di wadah saji. Sesuatu yang paling anak-anak suka adalah reward setelah 'bekerja', boleh makan apa saja yang ia suka yang ada di meja hari itu dan boleh dibawa pulang hasil racikan masakannya.



img-1543501398.jpg

Si bungsu sedang belajar menyajkan

Masuk magang level 2 (usia 14-16 tahun), area belajar pada sang ahlinya sudah mulai mengkerucut, fokus pada hal yang betul-betul ingin dipelajari. Durasinya pun lebih lama dua pekan hingga satu bulan, tergantung kesiapan anak dan frekuensi pengaaman magang sebelumnya.  Sehingga saat masuk pada magang level 3, anak sudah siap dilepas oleh orang tua untuk belajar lebih dalam lagi tentang apa yang ingin benar-benar anak ketahui terkait profesi dan tanggung jawabnya di dunia pekerjaan. 

img-1543501313.jpg


Usia SMP biasanya banyak maunya. Mau coba ini itu, kepo sana kemal sini (kepo maksimal). Tugas kita lah kemudian untuk mengawal dan mendiskusikannya dengan anak. Hal seperti itu benar terjadi pada kedua saya. Seru lah menemani anak ABG. Tak hanya anak yang belajar, orang tuanya pun belajar.


Yang paling saya rasakan adalah belajar bersabar, belajar menahan kekepoan kalau mereka pulang dari lokasi magang. Seccara ya, emaknye pengen banget tahu perkembangan paling anyar selama anak magang tuh ngapain aja, dapet pengalaman apa aja. Tapi ternyata ga hanya itu, keseruan mencari, menemukan, bersilaturahmi dengan banyak lokasi magang menjadi keseruan tersendiri. Berikut ini perjalanan magang dan projek si sulung saat SMP-SMA.


img-1543503107.jpg


Ada beberapa hal penting yang saya catat yang perlu diketahui oleh kita bersama terkait proses magang pada anak. Berikut ini yang bisa saya simpulkan. 


Buat anak yang usianya sudah 16 tahun ke atas dan belum pernah magang sama sekali, lakukan hal berikut ini :

  • Ajak anak berdiskusi dari hati ke hati. Pahamkan apa sih pentingnya magang, kenapa magang itu perlu. 
  • Baiknya orang tua sudah punya bahan diskusi terlebih dahulu tentang apa, bagaimana dan mengapa harus magang. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang magang untuk anak.
  • Karena anak usia ini sudah banyak aktifitas, maka perlu waktu untuk memasukkan sesuatu yang baru pada anak. Pintar-pintarlah mencari waktu berdiskusi, ajak makan di luar juga bisa menjadi pilihan
  • Kalau anak sudah mulai tergerak, mau mencoba merasakan magang, segera lakukan.  Bila ia mau mengajak teman, ijinkan, perbolehkan. Karena ini adalah sesuatu yang baru buat dia, biarkan ia merasa nyaman dulu dengan keputusannya mencoba
  • Pilih pekerjaan atau area yang memang ia sukai, ia sangat kepo dengan hal tertentu. Misal kalau anak suka ngulik hape, maka maganglah di tempat-tempat yang bisa membantu menjawab ke-kepoannya tentang ngulik hape. Karena ngulik hape itu luas, maka pilihannya, suka dengan pembuatan aplikasi  hpnya kah atau penasaran di hardwarenya. Diskusikan.
  • Saat diawal diskusi, jangan menolak apapun keingin-tahuan anak tentang pekerjaan tertentu. Diskusikan pelan-pelan.
  • Tak perlu memaksakan ke anak untuk membuat laporan magang. Namun tetap diskusikan dengan anak, karena kalau anak sudah merasa enjoy dengan kegiatan magangnya, bisa jadi anak sendiri yang akan merangkum kegiatannya dengan rangkaian foto atau mungkin gambar bergerak. Sehingga itu bisa menjadi bagian portofolio anak. Monggo sekalian bisa diintip ini portofolio azka sulung saya nih, mudah-mudah bermanfaat. Dengan portofolio itu bisa menjadi bahan diskusi dengan anak terkait tempat magang berikutnya, tempat kuliah atau sebagai salah satu modal beasiswa.
  • Kuncinya satu saat anak magang, yaitu PDCA. Plan-Do-Check-Action. 
  • Magang itu bisa dilakukan saat anak libur semester. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan anak. Kalau untuk level 3, minimal satu minggu. Jadi anak akan dapatnya utuh dan dalam akan satu profesi.

Berikut ini kesimpulan yang bisa saya kunci dari diskusi pagi tadi;

Magang level 3 usia 16 dan seterusnya adalah “masa panen” bagi ortu yang sudah menanamkan seluruh waktu, tenaga, biaya, pikiran dan perhatian pada anak-anak sebelum usia 16 th.  Anak sudah saatnya diberi kebebasan menentukan jalan karirnya. Bukan berarti ortu sudah melepas tangan, namun ortu berfungsi sebagai partner meyakinkan karir anak, bukan total sebagai fasilitator sebagaimana saat anak berusia di bawah 16th. 


Magang level 1 dan 2 merupakan kunci untuk mendapatkan pengalaman bagi anak agar memiliki kesiapan mental mandiri baik mandiri secara fisik (berpisah dengan ortu) maupun mandiri secara psikis ; Sederhananya, magang level ini adalah untuk uji potensi anak. Sebagai salah satu tolak ukur akan pengasuhan kita selama ini di rumah. Apakah ia bisa mandiri tanpa kita ingatkan, apakah problem solvingnya jalan saat tak ada orang dewasa, bagaimana adab bertamu dan bertemu orang lain. Termasuk belajar menentukan rencana aktivitas, rencana karir,  yang ini semua menjadi bekal untuk menjalankan magang level 3.


Magang level 3 adalah magang yang bersifat individual. Maka dibutuhkan proposal pengajuan magang ke instansi atau perusahaan. Sependek pengalaman saya ternyata wawancara dan dokumen berupa portofolio anak, lebih banyak berperan dalam mendapatkan tempat magang yang dibutuhkannya. 


Secara umum Magang level 3 target utamanya adalah anak beroleh knowledge dan skill baru yang menunjang karirnya.



img-1543504482.jpg


Terakhir, tambahan dari saya agar mengikatnya menjadi satu kesatuan. Bagaimana cara mendapatkan tempat magang? Mungkin tips sederhana ini berguna:


1. Silaturahmi 

Perkuat silaturahmi dengan siapapun. Karena kita tak pernah tahu bagaimana Allah mempertemukan kita melalui silaturahmi yang terjaga. Bagaimana maksudnya? Kadang Allah mempertemukan kita dengan lingkungan pertemanan terdekat kita sendiri ketika anak membutuhkan tempat magang. Pra magang dan magang level satu itu saya lebih banyak dipertemukan dengan lingkaran teman dekat dan saudara dekat. Anak usia SD saat berada di masa pra magang dan magang level satu itu akan jauh lebih nyaman bila berada di lingkungan 'baru' sekalipun ia sudah kenal secara personal dengan owner tempat magangnya. Ha ini akan membantu anak untuk lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.


2. Survey lokasi dan libatkan anak 

Kalau Anda melakukan magang mandiri, bukan dari lembaga/sekolah. Maka keterlibatan anak adalah hal utama. Karena yang akan melakukan proses belajar (magang) itu anak, maka libatkan anak seluruh prosesnya. Mulai dari menentukan mau belajar apa, dimana, bersama siapa dan berapa lama. Diskusikan dengan anak. Termasuk saat bertemu dengan owner, libatkan anak, kenalkan dengan owner dan aura tempat magangnya. Baiknya sebelum datang, anak sudah mengantongi informasi tentang temapt magangnya. 


Bagaimana kalau itu kurikulum dan diselesaikan oleh sekolah? Biasanya kalau sekolah akan mengelompokkan anak dalam satu rumpun keberminatan. Dan oran tua akan diberikan informasi nama dan lokasi magangnya. Maka lanjutkan di rumah untuk berdiskusi dengan anak tentang tempat magang, apa yang kira-kira akan didapatkan di tempat magang itu, apa saja informasi yang bisa dikumpulkan tentang ownernya dan lain sebagainya. Jadi anak berangkat ke tempat magang tuh sudah mengantongi informasi awal, ga kosongan, anak bisa mulai mendapatkan ruh belajarnya dari rumah.


3. Pasca magang

Setelah proses magang selesai, minta anak untuk mempresentasikan apa yang ia dapat selama di sana. Spirit apa yang ia peroleh dari perjalanan owner membangun bisnisnya, misalnya. Dari hasil presentasinya, biasanya akan muncul kalimat, ternyata aku ga suka di bagian yang ini atau aku suka banget saat di bagian ini, mungkin di magang berikutnya, aku akan mencari tempat magang yang punya bla bla bla biar aku banyak belajar lagi


4. Kunci dengan agama

Ini sih kalau saya dan keluarga ya. Baik magang mandiri atau magang yang difasilitasi sekolah, pasca magang anak akan menemukan benang merahnya proses belajar bersama dan dengan orang lain. Temukan satu dua kalimat yang mewakili insight proses itu. Misal ternyata dalam kesungguhan ibu itu bersedekah setiap pagi, berkahnya sampai ke lingkungan tokonya. Buktinya ada saja kebaikan yang diberikan oleh tetangga toko itu untuk membantu meningkatkan penjualan. 

---

Selamat praktek. Semoga bermanfaat

Kategori
Parenting

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar