Home / Artikel Apa dan Bagaimana Magang untuk anak usia 16 tahun ke atas

Apa dan Bagaimana Magang untuk anak usia 16 tahun ke atas

Apa dan Bagaimana Magang untuk anak usia 16 tahun ke atas

Parenting

Jum'at, 30 November 2018

" Saat usia 12 tahun atau lebih sedikit, Rosulullah sudah ikut berniaga bersama pamannya dan rombongan kaum Quroisy menuju negeri Syam."


Kisah ini begitu melekat pada ingatan kita tentang seorang pemuda yang ikut belajar berniaga dengan pamannya menuju negeri Syam. Dan di tengah perjalanan, seluruh rombongan beristirahat di sebuah desa hingga akhirnya bertemu dengan rahib yang menceritakan bahwa pemuda dengan ciri tertentu akan menjadi seorang nabi setelah Nabi Isa AS. Bukan tentang kisah kenabiannya yang akan saya garis bawahi. Bahwa ternyata sejak usia yang sangat muda, awal usia baligh, Nabi SAW telah dititipkan pada pamannya yang pandai berniaga untuk belajar banyak hal tentang hal itu.  Kalau zaman sekarang kita menyebutnya bahwa Nabi SAW itu sedang magang pada pamannya yang sudah hebat dalam perniagaan. 


Usia sekitar 12 tahun itu kan berarti anak SD kelas 6 atau SMP.  Artinya, anak usia segitu tuh sudah bisa belajar tentang kemandirian dalam kehidupan yang sesungguhnya pada orang yang ahli. Belajar memahami bagaimana sebuah perjalanan bisnis dilakukan sang paman menjadi bukti bahwa sebetulnya di usia seperti itu anak sudah bisa dikenalkan, diajari dan diberikan tanggung jawab layaknya orang dewasa lainnya. Lalu bagaimana cara kita melakukan hal seperti itu di zaman sekarang? Ga kebayang anak usia SMP sudah magang di perusahaan tertentu. Apa nanti ga  kena aturan karena mempekerjakan anak di bawah umur? Atau bagaimana sebetulnya magang yang dilakukan Rosul saat itu?


Kalau mendengar kata magang, yang ada di kepala kita langsung tergambar anak SMK/yang setara, siswa kelas akhir sedang melakukan pekerjaan di perusahaan tertentu sebagai bagian dari tugas akhir sekolah. Dan biasanya yang sering kita temui, mereka ada di bagian administrasi, bantu pegawai perusahaan untuk urusan input data, foto kopi berkas atau pernah saya lihat anak-anak itu disuruh membelikan makan siang pegawai. Seperti itukah yang terbayang magang saat ini? 


Tadi pagi saya berkesempatan mengikuti kuliah whatsapp yang diadakan ABHome dimana anak-anak saya belajar. Judulnya sudah menggelitik bagi sebagian orang, yaitu magang untuk anak usia 16 tahun ke atas. Magang? yup, magang, mak. Ikut kulwap ini membuat saya merefresh kembali apa yang pernah kami lakukan pada anak-anak untuk kemudian merencanakan dan belajar memperbaiki langkah berikutnya. Termasuk menyimpan kisah dan prosesnya di blog ini sebagai bagian dari mengukir sejarah perjalanan hidupnya. Kulwap pagi tadi mengajarkan tentang apa dan bagaimana magang agar bisa kita lakukan pada anak. Seru. Tapi sebelum masuk ke pembahasan, kami, para peserta diberikan materi awal tentang apa itu magang level 3. Oia, kebetulan karena anak-anak saya sudah di atas 16 tahun, maka saya hanya ikut kelas kulwap magang level 3. Gayung bersambut, biar perserta ga  bingung, di grup itu kami dikenalkan apa itu magang level 1 dan level 2. Ini dia gambaran awalnya.


img-1543497596.jpg

Pembagian leveling magang untuk anak

Magang yang dijabarkan tadi pagi itu bukan seperti magang yang pernah saya lihat di beberapa perusahaan yang saya gambarkan di atas ya, mak. Tetapi magang yang kekinian, magang yang terstruktur dan memiliki tujuan yang jelas plus bermanfaat untuk perkembangan anak. Magang yang akan mengenalkan pada anak sesungguhnya terkait apa sih sebetulnya potensi yang mereka punya. Sehingga saat mereka magang, belajar dan terjun langsung ke sebuah profesi itu, memang akan membuat mereka menikmati. Mereka mudah mengerjakannya sehingga bisa menjadikan mereka tambah ahli dan faham akan potensinya. Yang ujungnya adalah anak mampu menghasilkan sesuatu, baik menghasilkan sebuah produk, jasa bahkan materi. Menarik ya. Bahwa kalau proses magang itu bisa kita strukturkan dengan baik dan sesuai dengan minat anak, tentu akan membawa titik terang mengenai apa yang anak inginkan, bukan apa yang sekolah atau orang tua inginkan.


Menurut bu Diena Syarifa sebagai pemateri dan owner dari ABhome, beliau menjelaskan bahwa usia SMA adalah saatnya meningkatkan pemahaman tentang karir yang dikaitkan dengan minat, bakat dan pengalamannya.  Untuk mengenal apa minat dan bakat, ABHome menggunakan tools Talent Mapping yang dikembangkan oleh Abah Rama Royani. Dengan bantuan tools itu, kita menjadi fokus pada kekuatan yang dimiliki anak. Kalau sudah fokus pada kekuatan, maka akan jauh lebih mudah merancang aktifitas magangnya. Ini penampakan salah satu hasil TM anak saya. Dalam TM kita diajarkan untuk memaksimalkan kekuatan dan mensiasati kekurangan. Maka dengan melihat hasil ini, bu Diena menyarankan untuk melakukan 3B saja pada anak-anak. 

1. Banyak melakukan aktifitas

2. Banyak bertemu dengan orang

3. Berulang-ulang dilakukan


img-1543502322.jpg

Fokus pada kotak yang berwarna merah lalu kuning jauh lebih mudah


Bila magangnya level 1 dan 2 itu berkelompok, maka untuk magang level 3 ini, merupakan magang yang bersifat individual.  Magang individual akan berhasil bila kita telah selesai mengenalkan anak pada magang level 1 dan 2 dengan baik. Di mana anak belajar langsung pada ahlinya dengan berkelompok bersama teman. Area peminatan pada level 1 baiknya ada di area yang terdekat dengan anak. Hasil keringatnya saat ia belajar dengan ahlinya, langsung bisa dilihat dan dirasakan. Misalnya, anak langsung belajar ke area kuliner, sesuatu yang memang disukai anak. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu mengikut-sertakan si bungsu pada tempat ketring teman untuk belajar langsung bareng teman-temannya. Belajar naik angkot sendiri ke lokasi ketring, belajar menyajikan makanan di wadah saji dan yang paling dia suka adalah reward setelah 'bekerja', boleh makan apa saja yang ia suka yang ada di meja hari itu.



img-1543501398.jpg

Si bungsu sedang belajar menyajkan

Masuk magang level 2 (usia 14-16 tahun), area belajar pada sang ahlinya sudah mulai mengkerucut, fokus pada hal yang betul-betul ingin dipelajari.  Sehingga saat masuk pada magang level 3, anak sudah siap dilepas oleh orang tua untuk belajar lebih dalam lagi tentang apa yang ingin benar-benar anak ketahui terkait profesi dan tanggung jawabnya di dunia pekerjaan. 

img-1543501313.jpg


Usia SMP biasanya banyak maunya. Mau coba ini itu, kepo sana kemal sini (kepo maksimal). Tugas kita lah kemudian untuk mengawal dan mendiskusikannya dengan anak. Hal seperti itu benar terjadi pada kedua saya. Seru lah menemani anak ABG. Tak hanya anak yang belajar, orang tuanya pun belajar. Yang paling saya rasakan adalah belajar bersabar, belajar menahan kekepoan kalau mereka pulang dari lokasi magang. Seccara ya, emaknye pengen banget tahu perkembangan paling anyar selama anak magang. Tapi ternyata ga hanya itu, keseruan mencari, menemukan, bersilaturahmi dengan banyak lokasi magang menjadi keseruan tersendiri. Berikut ini perjalanan magang dan projek si sulung saat SMP-SMA.


img-1543503107.jpg


Ada beberapa hal penting yang saya catat yang perlu diketahui oleh kita bersama terkait proses magang pada anak. Berikut ini yang bisa saya simpulkan. 


Buat anak yang usianya sudah 16 tahun ke atas dan belum pernah magang sama sekali, lakukan hal berikut ini :

  • Ajak anak berdiskusi dari hati ke hati. Pahamkan apa sih pentingnya magang, kenapa magang itu perlu. 
  • Baiknya orang tua sudah punya bahan diskusi terlebih dahulu tentang apa, bagaimana dan mengapa harus magang. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang magang untuk anak.
  • Karena anak usia ini sudah banyak aktifitas, maka perlu waktu untuk memasukkan sesuatu yang baru pada anak. Pintar-pintarlah mencari waktu berdiskusi, ajak makan di luar juga bisa menjadi pilihan
  • Kalau anak sudah mulai tergerak, mau mencoba merasakan magang, segera lakukan.  Bila ia mau mengajak teman, ijinkan, perbolehkan. Karena ini adalah sesuatu yang baru buat dia, biarkan ia merasa nyaman dulu dengan keputusannya mencoba
  • Pilih pekerjaan atau area yang memang ia sukai, ia sangat kepo dengan hal tertentu. Misal kalau anak suka ngulik hape, maka maganglah di tempat-tempat yang bisa membantu menjawab ke-kepoannya tentang ngulik hape. Karena ngulik hape itu luas, maka pilihannya, suka dengan pembuatan aplikasi  hpnya kah atau penasaran di hardwarenya. Diskusikan.
  • Saat diawal diskusi, jangan menolak apapun keingin-tahuan anak tentang pekerjaan tertentu. Diskusikan pelan-pelan.
  • Tak perlu memaksakan ke anak untuk membuat laporan magang. Namun tetap diskusikan dengan anak, karena kalau anak sudah merasa enjoy dengan kegiatan magangnya, bisa jadi anak sendiri yang akan merangkum kegiatannya dengan rangkaian foto atau mungkin gambar bergerak. Sehingga itu bisa menjadi bagian portofolio anak. Monggo sekalian bisa diintip ini portofolio azka sulung saya nih, mudah-mudah bermanfaat. Dengan portofolio itu bisa menjadi bahan diskusi dengan anak terkait tempat magang berikutnya, tempat kuliah atau sebagai salah satu modal beasiswa.
  • Kuncinya satu saat anak magang, yaitu PDCA. Plan-Do-Check-Action. 
  • Magang itu bisa dilakukan saat anak libur semester. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan anak. Kalau untuk level 3, minimal satu minggu. Jadi anak akan dapatnya utuh dan dalam akan satu profesi.


  • img-1543504188.jpg

Ini contoh kurikulum magang, putra sulungnya bu Diena

  • Berikut ini kesimpulan bu diena di akhir kulwap pagi tadi;

Magang level 3 usia 16 dan seterusnya adalah “masa panen” bagi ortu yang sudah menanamkan seluruh waktu, tenaga, biaya, pikiran dan perhatian pada anak-anak sebelum usia 16 th.  Anak sudah saatnya diberi kebebasan menentukan jalan karirnya. Bukan berarti ortu sudah melepas tangan, namun ortu berfungsi sebagai partner meyakinkan karir anak, bukan total sebagai fasilitator sebagaimana saat anak berusia di bawah 16th. 

Magang level 1 dan 2 merupakan kunci untuk mendapatkan anak memiliki kesiapan mental mandiri baik mandiri secara fisik (berpisah dengan ortu) maupun mandiri secara psikis ; menentukan rencana aktivitas, rencana karir dll yang ini semua adalah bekal untuk menjalankan magang level 3.

Magang level 3 membutuhkan proposal pengajuan magang ke instansi, dari pengalaman ternyata wawancara dan dokumen berupa portofolio lebih banyak yang menentukan anak beroleh tempat magangnya. 

Secara umum Magang level 3 target utamanya adalah anak beroleh knowledge dan skill baru yang menunjang karirnya.

img-1543504482.jpg


Untuk melengkapi catatan saya terkait kulwap magang level 3, berikut ini saya sertakan tanya jawabnya ya. Semoga bermanfaat.


1. Pertanyaan #1 dari ibu Dewi Krisnamurti 

Untuk kami yang berada di daerah, sulit sekali mencari tempat magang/mentor yang benar-benar ahli di bidangnya, karena yang seperti itu biasanya ada di Jakarta, gimana solusinya bu?

Sejauh ini guru-guru hebat anak-anak saya malah tidak ada yang di kota besar/Jakarta. Guru-guru hebat malah ada di pelosok desa, di puncak gunung. Mereka Begawan di ujung dunia, sunyi. Magang level 3 sudah menuntut anak berguru pada guru di seluruh penjuru dunia. Karena itu siapkan mental anak. Pastikan magang level 1 dan 2 nya tuntas. Jika terkait biaya, carilah sponsor, menabunglah. Tidak usah terlalu banyak menyiapkan uang tabungan untuk anak di masa kuliah, “habiskan” dana untuk biaya belajar memandirikan anak sejak anak balligh. Contohkan iban anak saya ke malang, ke Tasikmalaya sampai ke New Zealand, Dio anak saya ke Hongkong , Najla – HSer Abhome ke Bangkok, Naura HSer Abhome ke Solo, Iman HSer Abhome ke Surabaya, Attu HSer Abhome ke Malaysia, Azka HSer Abhome ke Surabaya, Atika HSer Abhome ke Medan dll.


2.  Pertanyaan #2 dari Ibu Candra D 

Pertanyaan saya

1. Bagi saya, dan anak-anak saya sekolah formal. Blm pernah magang. Bagaimana step-step nyata ke arah magang di usia 19 thn. Saat ini semester 3 di fk unair

Jika anak usia 19th belum pernah magang, cara “akeslerasinya” adalah dg mengajak terlebih dahulu anak diskusi dari hati ke hati menjelaskan urgency magang. Berilah gambaran lengkap tentang magang (ortu harus bny bahan dulu sblm diskusi, krn akan berhadapan dg ngeyelnya anak). Berikan contoh dg video, foto atau status FB (FB saya boleh) pokoknya jangan hanya ceramah bernada menyuruh. 

Bentuknya penawaran, dan anjuran. Jangan lupa support doa supaya hatinya tergerak, krn bukan hal yg mudah mengingat anak sudah punya kesibukan sendiri yg menurutnya produktif/penting, apalagi tidak ada teman yg sevisi terkait magang.

Jika anak mau dan tergerak untuk magang, segera magangkan anak sesuai bidangnya (di bagian FK) apapun pekerjaan yg bisa dikerjakan. Kalau anak mengajukan ajak teman perbolehkan. Bagus jika mandiri (idealnya mandiri sesuai usianya saat ini). Jika tdk ya gpp yang penting mencicipi magang. 

Karena baru magang di usia 19th yg seharusnya sudah career based targetnya jadi pada saat anak magang targetnya double: 

(1)cek profesionalitas bekerjasamanya dg orang lain (sisi bakat-bakat di klaster Influencing dan bakat2 di klaster Relating ---baca buku Talents Mapping)

(2)cek dari sisi keberbakatan terkait dunia FK nya ingat, keberbakatan ya bukan Knowledge dan skill. Lagi-lagi baca buku Talents Mapping terkait TASK (Talent, Attitude, Skill, Knowledge). Supaya kelak mengambil spesialisnya lebih tepat sesuai TASK nya.


2. Istilah " merancang magang" . Bagaimana realnya?

Merancang magang baik magang level 1,2,atau 3 sama saja tahapannya yaitu melalui siklus manajemen: Plan – Do- Check – Action/Review. Siklus manajemennya sudah saya share saat kulwap magang level 1. 

Kebetulan ada salah satu peserta yang merangkumnya. Silahkan baca di link berikut : bit.ly/KonsepMagang

Secara aktual, untuk anak-anak saya di rumah , saya merencanakan jadwal magang mereka dalam satu tahun sekitar 2 atau 3 kali magang menyesuaikan jadwal kegiatan anak yang lain terutama sekolahnya, biasanya di awal tahun saya diskusikan dengan anak saya, lalu kami setting di kalender rumah.


3. Seberapa sering sebaiknya magang?

Dan magang, apakah sebaiknya dibuat laporan? Atau semacam surat keterangan dari tempat magang. Apakah bisa menjadi semacam referensi/ pengalaman kerja? Seberapa sering sebaiknya magang?

Idealnya frekwensi magang (level 1,2,3) itu 1-2/semester dengan durasi sesuai yang sudah saya share di sesi kulwap sebelumnya. Khusus untuk magang level 3, baik frekwensi dan durasi tiap magang mulai menyesuaikan kebutuhan anak dan anak sudah mulai dilatih mandiri merancang dan menentukan rencana magangnya. Berilah anak kebebasan, jika anak sudah terbiasa magang level 1,dan level 2 , inshaallah magang level 3 nya sudah mandiri. Tetap gunakan konsep beraktivitas 3B : aktivitas yang beragam, aktivitas yang berulang-ulang dan aktivitas yang berinteraksi dengan banyak orang.


Magang level 3 tidak ada laporan, kecuali jika tempat magang meminta anak menyusun laporan. Magang level 3 sudah tidak perlu anak diikat/dibebani dengan laporan paper based. Bebaskan anak mengekspresikan hasil magangnya, apakah dalam bentuk video, foto, diskusi/sharing, atau bahkan tidak ada sama sekali. Yakinlah anak pasti menanam pengalaman berharga saat magang, anak mengambil insightnya untuk kebutuhan pribadinya. Ingat, magang level 3 anak sudah bukan anak-anak lagi, mereka sosok aqil baligh yang sudah harus diperlakukan sebagai orangdewasa. Jangan lupa mintalah anak surat keterangan telah mengikuti magang di perusahaan/lembaga tsb sebagai tambahan portofolio anak.


Apakah bisa menjadi semacam referensi/ pengalaman kerja?

Bisa banget, bahkan menjadi bahan diskusi penting saat anak wawancara kerja, kuliah atau bea siswa. Pewawancara sangat excited dengan anak muda yang kaya ragam aktivitas daripada sekedar sekolah duduk dibangku bermodal raport dan ijazah

4. Untuk TM. Bakat apakah bisa dipengaruhi kebiasaan. Misal kuliah di tempat yg harus banyak membuat laporan ilmiah. Kemungkinan bisa muncul bakat penulis di TM.

Bisa ya , bisa tidak. Jika menulis ilmiahnya dilakukan dengan 4 E (Enjoy, Easy, Excellent dan Earn) besar kemungkinan anak talented di bidang penulisan baik penulis fiksi maupun non fiksi. Coba diperhatikan dan digali bagaimana saat anak menulis laporan, apakah dengan senang hati tanpa ada keluhan sama sekali (Enjoy), apakah menulis itu sesuai yang mudah saja baginya (Easy), apakah hasil tulisannya excellent (Excellent), lalu apakah tulisannya bermanfaat untuk orang lain dan bisa dan respond masyarakat baik saat dipublikasikan (Earn). Jika keempat unsur tersebut dipenuhi kemungkinan besar dapat berprofesi sebagai penulis. Lebih mantapnya supaya jelas peta potensinya seperti apa, sebaiknya melakukan tes Talents Mapping.

Pertanyaan #3 Dari Pak Setiyo

1. Apabila minat magang anak berbeda dengan rekomendasi dari TM assessment, bagaimana kita menyikapinya?

Maksudnya minat bidang magang? Biasanya anak yg sudah di tahap magang level 3 sudah sadar akan kebutuhan mengolah potensinya, sejauh pengalaman saya tidak ada penolakan bidang magang dengan peta potensinya, karena potensi hasil TM itu dinamis sekali kalau dikaitkan dengan bidang magang. Andaipun ada anak seperti ini sebaiknya melakukan konseling untuk mengulik keinginan anak.


2. Bagaimana kriteria yang digunakan untuk menentukan anak cocok di jalur professional, enterpreneur atau kuliah?

Untuk di sekolah/ Abhome , tahap awal digali dengan diskusi ringan antara ortu dan anak, bagaimana pendapat ortu, bagaimana pendapat anak. Jika anak-ortu satu visi mengarah ke jalur tertentu, dilajutkan dengan konseling karir sambil melihat sejauhmana progres projectnya mampu menambah knowledge dan skill jalur yang diarah.

Contoh aktualnya di Abhome sbb:

Jika jalur Professional: anak di usia SMA sdh fokus minatnya di satu bidang itu saja yang diwujudkan dengan aktivitas aktual di project2 dan magangnya. Karena ortu mendukung jd anak ini lulus SMA lebih memilih bekerja mandiri, freelance sbg programmer. 

Jika jalur Entreprenur : memiliki kemauan dan kemampuan berwirausaha mandiri (atau disupport ortu), mulai merintis usaha nyata saat SMA, atau ortu sudah memiliki platform bisnis yang siap dilanjutkan anak. Anak memilih magang di unit kerja sesuai platform bisnis ortunya.

Jika jalur akademik : anak memiliki kemauan dan kesadaran untuk mencari bekal masuk universitas (menyapkan diri tes akademik dll), anak memiliki kesadaran ingin mencobakan jurusan kuliahnya kelak dalam sebuah project dan magangnya. ketiga jalur itu semuanya dievaluasi menggunakan indikator 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn)


3. Pilihan dia bisa Earned itu banyak, sebaiknya di level ini yang lebih efektif sifatnya materi atau immateri? Bisa ditambahkan contoh mungkin.

4 E : Enjoy, Easy, Excellent, Earn. 

Earn bentuknya material maupun inmaterial. Earn di level 3 untuk anak yang berusia 16-17th masih belum saya perbolehkan menerima fee dari pihak magang untuk menghindari tuduhan mempekerjakan anak di bawah umur (hiks padahal sdh baligh ya..) terutama saat magang di Indonesia. Hal ini saya infokan ke semua Hser Abhome dan ortunya, meskipun saya melihat ada anak yang sudah layak menerima fee dari hasil kerjanya yang profesional. 

Namun, saya akan perbolehkan jika di LN sepanjang itu legal, contohnya anak saya yang akan magang 7 bulan di New Zealand tahun depan (2019) sudah diinfo akan menerima fee sesuai jam kerja magangnya. 

Jika sudah lebih dari 17th, anak saya perbolehkan menerima fee magang baik di dalam negeri mauapun LN. Contohnya anak sulung saya sejak usia 18th sampai skrg (usia 19th) setiap magangnya selalu menerima fee karena magang level 3 nya selalu tergabung dalam tim yang bekerja profesional. Fee ini menjadi penyemangat anak untuk mengisi waktu jeda kuliah dengan magang.


Pertanyaan #4 dari Risti Dinda (mahasiswa)

Begini bu , saya mau bertanya. ini kan Alhamdulillah saya sudah test ™ bu. Nah ini saya harus belajar dulu apa langsung magang bu. Kalau belajar apa yg harus saya pelajari dan kalau magang bagaimana caranya bu saya bisa magang gitu ? Begitu bu yang ingin saya tanyakan..

Terima kasih

Kalau ada waktu magang saja sesuai yang diminati sesuai bidangnya, cobakan dulu. Lihat jawaban pertanyaan no.2 . Sambil jalan, belajarlah terkait TM ikuti seminar yang bisa diikuti. Carilah mentor TM yang ada di kota Risti, untuk teman diskusi.


Pertanyaan #5 dari Bu Indah

1. Jika siswa belum tuntas di magang 1 dan 2 sekarang sudah duduk di kelas 11 dan belum ketemu bakatnya apa yang seharusnya dilakukan

Yang utama sebenarnya menemukan minat anak di bidang apa, lalu ajak diskusi dari hari ke hati terkait urgency/keutamaan magang di usianya. Carikan teman untuk magang. Bebaskan anak menentukan dulu tempat magangnya (andai sudah mau mencoba magang). Sementara “lupakan” dulu urusan bakat, carilah kegembiraan dan kesenangan anak magang dulu terlepas itu bakat atau minatnya. Tidak perlu khawatir itu akan sia-sia, atau terlambat karena bisa jadi anak yang sudah klik dengan kegembiraan magang dia kan cepat menemukan siapa dirinya, apa potensinya. Batasan usia yang saya share terkait magang level 1, 2, 3 adalah usia ideal yang anak memang sudah disiapkan mental magangnya sejak dini. Jika memang sejak dini belum disiapkan, jangan terburu menyesal terlambat, tetap sabar dan berusaha memperkenalkan magang dari hati ke hati. Murid2 saya di ABHome  yang sebelumnya di SD, SMP tidak pernah magang dengan support ortunya yang bahkan sekarang (SMA dan Mhs) menjadi “penggemar” magang. Ortu harus memiliki menjelaskan pada anak urgency magang terkait karirnya kelak. Mohon dibaca juga jawaban pertanyaan no.2.


2. Ada anak yg suka design grafis. Ternyata agak ausah dicari maestronya. Ada maestro tapi ketika kita ijin mau magang jawabannya adalah kuliah saja di design grafis. Dan itu sudah beberapa maestro yg kita tembusi. Apa yg harus kita lakukan?
Tidak ada kata lain selain terus mencari bu, jangan lupa melakukan perdekatan secara informal. Ikutkan anak workshop atau trainingnya terlebih dahulu jalinlah hubungan baik sambil mengenalkan konsep magang ke maestro tersebut. 

Justru ini tantangan magang di Indonesia karena magang selalu identik dengan mahasiswa atau SMK kelas 12. Umumkan di media social maestro/guru/lembaga yang berkenan dimagangin. Jangan lupa siapkan mental dan data/CV anak sehingga memang anak layak dilepas magang dan tempat magang merasa bangga menerima anak kita magang.


3. Ketika bakat anak sudah diketahui tetapi baik pihak sekolah atau orang tua belum menemjkam maestro yg cocok. Apa yg harus dilakikan anak ortu dan sekolah

Sama seperti jawaban diatas. Yakinlah pasti ada mentor, guru, lembaga yang akan kita jumpai untuk anak kita. Siapkan saja anak sebaik mungkin. Saya percaya “guru hadir saat murid siap” itu yang saya alami di anak-aak dan murid saya. Mentor/maestro itu tidak harus yang terkenal atau mumpuni sekali. Cukup satu atau dua level di atas kompetensi anak, sudah dapat sebagai mentor atau tempat magang learn to maestro.


4. Berapa lama sebaiknya durasi magang 3 ini

Tidak ada durasi khusus, anak bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan nego lembaga.


5. Apa saja yang perlu dievaluasi pada magang 3 ini

Anak sudah mandiri melakukan self assessment hasil magangnya. Ini merupakan pengalamn individual yang kita bisa menggali anak beroleh insightnya saat diskusi. Jadi tidak perlu ada report, presentasi atau apapun kecuali diminta oleh tempat magang.


Dear @diena syarifa bagaimana kalau minatnya banyak ?

Kalau minatnya banyak, petakan dulu minatnya . Bagus jg berbasis  data assessment misal hasil Talents Mapping, jangan hanya berbasis ungkapan minat. 

Setelah dipetakan lalu gali dg diskusi mendalam sambil merencanakan aktivitas terkait minta tsb. 

Mulailah dr yg paling mudah dijangkau baik dr sisi waktu, tenaga, biaya dan networking.


Terima kasih ternyata semakin menarik pembahasan magang ini bu diena.

Anak saya kini menjelang 17th, dengan bakatnya pernah termagangkan sendiri tanpa sengaja dari SD-SMP. Dengan bakat disain dan fotografi plus kemampuan menulis narasi projek pembuatan buku tahunan, cover, spanduk dan juga berbagai rancangan survenir. Namun semua masih dalam taraf tataran untuk senang2 belum keseriusan. Artinya, menghasilkan uang saku sekedar buat jajan dan membeli barang kesenangan.

Apalagi sejak di bangku SMK, masuk dijurusan multimedia maka makin merambah ke pembuatan iklan, film dan sejenisnya. Sudah terlanjur sibuk sendiri dgn kurikulum sekolah dan pencapaian dari sesama teman2 yg memiliki pasion yg sama di dunia multimedia. Maestronya selama ini adalah kakak2 senior dan guru2 yg dianggapnya hebat dalam bidang tertentu. Itu saya ketahui dari obrolan kami sehari2.

Saya pernah memagangkan kemampuan menulisnya dgn membuat buku hasil dr pelatihan 2 hari. Buku novel itu selesai,  tapi ia malah tak puas dan protes dgn cover dan gambar2 yg dibuatkan oleh penerbit dibanding isi tulisannya sendiri. Saat magang resmi dr sekolah selama 2 bulan, ia sempat jenuh karena ditahap awal tak ada kerjaan. Akhirnya diselang selingi sendiri olehnya, mengerjakan hal lain menerima orderan. Jadi selama ini ortu hanya mensupport saja karena melihat anak sptnya sdh letih dgn aktivitasnya.

Tahun depan inshaa allah kuliah karna sdh diterima melalui jalur sekolah. Jurusan yg dimasukinya nanti DKV (disain komunikasi visual). Dan sepertinya ia sdh tak sabar mandiri jadi anak kost2an. Hehe

Adakah yg hal lain yg perlu jd pertimbangan untuk pengembangan karirnya di masa depan ?


Ibu, dr uraian ibu sy rasa putra ibu sdh bagus di jalurnya . Namun nampaknya ada kejenuhan shg dirasa performance nya turun di mata ibu atau ibu punya target yg lebih tinggi dr target anak?

Duduklah dg anak , settinglah target bersama berilah anak aktivitas lain yg beragam namun msh di bidang DKV. 

Biasanya anak2 memiliki 1-3 potensi tdk hanya satu, carilah potensi yg lainnya apa dg mapping potensinya. 

Cobakan dlm project shg hidupnya berwarna. Di akhir , biarkan anak memilih sbg jalan karirnya. Oh ya jangan lupa anak masa SMA itu perlu mempunyai Mentor dan Coach. Mentor itu terkait kematangan emosional dan spiritual. Coach terkait sosok untuk meningkatkan skill dan knowledgenya.


Dear bu @diena syarifa,

Saat ini anak saya sedang magang di sebuah perusahaan mesin otomasi dan sedang mengerjakan project di Makasar dan Papua.

Lifeskill yang kita berikan ke anak apakah dari sisi teknisnya untuk profesionalisme ketehnikan atau manajemen perusahaannya juga. Misalnya melihat perusahaan secara keseluruhan, melihat masalah yang dihadapi apa kemudian menganalisis dan memberikan masukan?

Secara umum urutannya spt ini bu:

1. Uji adab: klo di putra Ibu brarti lihatlah aspek profesionalitas bekerjanya

2. Memperoleh Knowledge dan skill baru.

3. Belajar proses : dr bisnis proses sampai ke manajemen

4. Menemukan diri secara utuh terkair karirnya


Bertanya, Mbak :

1. Apa yg perlu disiapkan ketika propose untuk magang di suatu tempat / maestro. 

Terkait dgn hal dokumen. Apa perlu proposal dll ?

Tadi sempat saya catat adl cv anak

Untuk magang level 1 belum perlu proposal , krn sifatnya msh pertemanan home industri terdekat. Spt yg sy share detil di kulwap magang level 1. Jalunlah networking dg pemilik home industri secara informal.

Untuk magang level 2 dan 3 sdh mulai menggunakan proposal krn magangnya di instansi. Bahkan kadang perlu portofolio dan wawancara.


Dear @diena syarifa bagaimana kalau saya yang klau dibling kpngin magang ttpi ortuny tdk mendukung ?

Maaf ini maksudnya anak mau magang tp ortunya tdk mendukung? 

Jelaskan baik2 ke ortu urgency magang. Gunakan waktu luang yg ada unt magang, tunjukkan hasilnya bhw magang. Jika msh sbg mhs, mintalah rekomendasi dr dosen untuk magang atau ikut projectnya dosen sbg Volunteer.


---

Selamat praktek. Semoga bermanfaat


Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial