Cerita Dibalik Mengapa Apa dan Bagaimana


"Bundaa...saliim" Anak-anak usia 4-6 tahunan ini berhamburan, berebut hanya untuk berpelukan dan menyapa saya pagi itu. So sweet banget yekaaaan.

"Bun, kenapa sih kok baru dateng lagi?" Jleb! Ada yang merindukan! #eeaa Jatah hadir saya yang satu hari dalam lima hari, ternyata masih kurang buat mereka. Ya iyalaah maak. Kenapa pulak cuma satu hari.

"Bun, ada waktu ga, aku mau cerita nih." WA salah satu SDM saya di sekolah lain.

"Bun, minggu ini kita ngaji ga?" pertanyaan yang paling saya suka dari guru ini.

"Ini ada WA masuk kek gini dari orang tua, jawabnya gimana ya?" pertanyaan yang paling sering saya hadapi dari rekan kerja.

"Bun, coba bilang deh sama yayasan, kita tuh udah bla...bla... bla..., kenapa bla..bla... bla." cerita salah satu manager program siang itu.

"Bun, ini anak kok udah diajarin kek gini , ga ngerti-ngerti juga ya. Udah gitu, lariiii aja kerjaannya, kalau pun bisa duduk, ga ada 5 menit, bun. Sekalinya dia berdiri, pasti tangannya ganggu temennya yang lagi nulis deh." Guru ini datang di sore hari saat saya sedang duduk di kantin sekolah.

"Mba Ika, kok sambungan tulisannya, belum ada lagi sih, tag aku ya kalau sudah ada, aku nututi ceritane di blognya mba, loh." Inboks pagi itu datang.

"Mba Ika, terima kasih ya. Gara-gara tulisan mba kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk tinggal sama ibu di kampung." Tetiba inboks serupa brudul masuk ke pesan medsosku.

***

Pagi ini udara Bogor sangat dingin, kalau melihat di penunjuk cuaca di hp, 20 derajat. Ups, pantes dingin. Suara burung gereja terdengar nyaring bersahutan ke sekitaran rumah. Dan suara burung perkutut milik tetangga ikut menimpali sahutan burung gereja. Suara aliran anak sungai Cimahpar di ujung jalan perumahan ini, terdengar deras. Efek semalaman Bogor diguyur hujan. Ah, kondisi seperti ini membuat malas bergerak dari sofa ruang tamu. Selonjoran, selimutan dan menuntaskan camilan minggu ini, buku Deception Point-nya om Dan Brown. Salah satu pengarang cerdas yang saya suka. Buku-bukunya banyak menghiasi lemari perpus di rumah. Banyak alur dan karakter kuat yang dibangun oleh Dan Brown saat bercerita. Kekuatannya melakukan penelitian mendalam sebelum dituangkan dalam sebuah cerita, kadang membuat pembacanya bingung. Mana kenyataan mana hayalannya semata. 


Anak-anak kalau Sabtu seperti ini, kami izinkan boleh leyeh-leyeh setelah sholat shubuh. Hari Sabtu adalah hari merdeka buat mereka. Batas tugas paginya panjang hingga jam 9.00 untuk urusan mandi pagi, cuci piring, menyapu, mengepel teras, menyiram tanaman dan lanjut sarapan untuk beraktifitas di komunitas homeschooling-nya. Merdeka yang sangat sederhana, berhenti sejenak dari urusan rutinitas. Hari Sabtu juga menjadi me time rutin saya, dan buku menjadi pelampiasan pertama di awal hari yang paling nikmat. Bagaimana dengan paksu? jangan ditanya, Sabtu Minggu adalah harinya beliau belajar dan berkomunitas di masjid dan dengan teman-temannya. Menjelang jam 10 baru ada di rumah. Ini yang membuat saya memiliki me time yang lumayan panjang di hari Sabtu. Lupakan cucian baju, per-dapuran (termasuk masak yaa. Hahaha) dan setrikaan. Yeaay.


Sudah seminggu ini loading pekerjaan sedang berada pada puncaknya. Di sekolah tempat saya beribadah, sedang mempersiapkan open house. Persiapan demi persiapan sedikit menyita waktu ditambah dengan permintaan review beberapa buku untuk segera dikirimkan juga belum rampung. Beberapa permintaan artikel dari beberapa klien juga sempat saya pending. Dua naskah saya, calon buku kedua dan ketiga, yang berlembar-lembar itu, hanya dilirik saja setiap hari, lebih tepatnya, terbengkalai karena kondisi badan sudah minta jatah untuk istirahat. Saya sakit. Hehehe. Bukan Aeyza namanya kalau sakit pun hanya tiduran di rumah. Justru akhirnya membaca, menulis atau jalan-jalan bisa mengobati sakit fisik saya. "Bunda mah kurang piknik aja." itu kata suami. Sepertinya saya tidak setuju untuk kali ini. Karena hampir dua minggu saya dan suami jalan-jalan terus berdua saja, karena anak-anak sedang homestay  di kampung Inggris, Pare, Kediri.


Mereka berdua, Azka dan Ailsa, saat SMA-nya, kami memilih untuk meng-homeschooling-kan selain karena permintaan mereka sendiri, kami juga melihat dari kebutuhan mereka yang sudah mengkerucut pada peminatan di beberapa bidang yang perlu kami confirm banyak kegiatan tentang minat itu.  Buat kami, anak-anak seusia mereka perlu sekali untuk melakukan 3B; bertemu banyak orang, melakukan banyak aktifitas dan dilakukan secara berulang-ulang. Bila anak-anak, kami masukkan ke sekolah formal pada umumnya, keleluasaan kami untuk mengolah itu, mungkin akan sedikit terbatas, terkendala dengan prosedur ini itu. Sesederhana itu sih. Anak-anak pun senang bukan kepalang, karena aktifitasnya jauh lebih berwarna dan bisa jalan-jalan menuntaskan kekepoan mereka ke tempat yang mereka mau. Itu menurut anak-anak. Ups, mereka belum tahu, kalau jalan-jalan pun akan kami atur tanpa pesawat, hotel dan kemudahan lainnya. Karena dengan keterbatasan, anak akan 'dipaksa' untuk mencari jalan keluarnya sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Manajemen traveling bermental musafir kami tekankan. Ini salah satu keseruan nak gadis dalam beraktifitas  atau  belajar ala cah lanang   


Tak hanya sebagai ibu, saya sangat menikmati peran sebagai bagian dari departemen HD di sebuah sekolah swasta. Kecintaan dalam mengelola, berkomunikasi dan mengembangkan kelebihan orang ini menjadikan saya bertahan di posisi yang sama selama 11 tahun lebih. Bertemu dengan orang baru itu bagi seorang Ika bagaikan menghirup udara segar di pagi hari. Bersih tanpa tedeng aling-aling setelah beberapa waktu kemudian udara itu mulai pengap, tak sehat, sehingga diperlukan sesuatu untuk mengembalikannya menjadi segar kembali. Itu tantangan yang paling sering dan paling saya sukai. Adrenalin tinggi itu memicu jalan keluar dan semangat baru loh.


Saat ini saya mengambil peran yang lebih menantang lagi, yaitu mengelola parenting school di sebuah lembaga pendidikan di kota Bogor. Belajar sama-sama dan sama-sama belajar bersama orang tua murid.


"Mba, ojo lali yo nduk, dino Seloso iki ke Depok. Sekalian, dino Seloso jadwalmu pelatihan untuk guru-guru di TK, loh." WA dari ibu masuk pagi ini mengingatkan saya untuk datang rutin ke TK. Ya, semenjak diminta ibu untuk kembali fokus mengelola TK al Quran yang telah kami dirikan 29 tahun lalu, sejak saya SMP. Ibu selalu wanti-wanti, 'pergilah yang jauh untuk kembali menumbuh-tularkan kebaikan di TK ini'. Sudah 6 tahun ini saya kembali fokus meluangkan waktu minimal satu-dua hari dalam seminggu. Tak hanya mengajar kembali ke TK, sesuatu yang sudah lama saya tinggalkan, namun kembali mengelola sekolah dan berbagi dengan guru-guru di sana menjadi angin segar yang tak saya dapat kan sebagai bagian dari departemen HD. Eh, ga juga deng, selama menjadi bagian di HD, minimal kesempatan mengajar anak-anak itu sebulan sekali. Sebagai guru tamunya anak-anak. Namun bedanya, kalau mengelola sekolah sendiri, saya feel free untuk merubah dan menyesuaikan banyak hal terkait kurikulum.


Termasuk yang baru-baru ini, saya, suami dan adik-adik lakukan. Karena sejalan dengan visi dan misi yayasan kami, alhamdulilah, saat ini pun mulai membuka rumah tahfidz. Antusias yang luar biasa kami dapatkan dari dukungan masyarakat sekitar. Sampai harus membuka kelas magrib-isya. Jadi ingat sekian puluh tahun lalu, saat baru membuka rumah baca dan belajar (belum menjadi TK al quran dan lembaga psikologi seperti saat ini). Garasi rumah yang dijadikan tempat belajar selalu mendatangkan keseruan bersama warga sekitar. Kalau mereka habis belajar, tak lama, orang tua yang menjemputnya, akan membawakan pisang, singkong, pepaya pada kami. Hasil kebun yang menjadi biaya bulanan anaknya untuk belajar. Padahal saat itu, kami tidak menarik pungutan sepeser pun. Tapi setelah itu, biasanya saya dan ibu langsung membuat cooking class dadakan. Hasil dari kegiatan itu, dibawa pulang oleh anak-anak. Dan inilah salah satu yang membuat kami bertahan hingga sekarang , senyum merekah saat mereka datang dan pulang belajar. 


Mimpi menjadikan tempat dan rumah ini sebagai salah satu tempatnya belajar al Quran di tahap berikutnya, terlaksana di tahun 2017. Tinggal melanjutkan ke tahapan berikutnya. Semoga Allah mempermudah langkah ini agar menjadi berkah.


Tak lama, notifikasi WA muncul di HP, "mba, namamu ada di pengumuman nih. Aku baru buka. Selamat belajar sebagai fasilitator ya." Ahh...lagi-lagi komunitas ini selalu memberikan yang saya butuhkan. Ruang belajar dan ruang untuk bertumbuh. Terima kasih IIP, Institut Ibu Profesional.


img-1509933996.jpg


Ini alasan mengapa saya mau belajar sebagai fasilitator. Seru yekaaan.... 

  • Sabtu, 28 Oktober 2017

Artikel Terkait

Persiapan Umroh
Persiapan Umroh
Saat maut menjemput
Saat maut menjemput
Dasar pencuri !
Dasar pencuri !
Warteg yang Bikin Wareg
Warteg yang Bikin Wareg
Belajar Dari Banyak Model Sekolah
Belajar Dari Banyak Model Sekolah
Aku dan Kamu
Aku dan Kamu
Semua Anak Adalah Bintang
Semua Anak Adalah Bintang
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya

Komentar

Sayrifah Aini
Sayrifah Aini
Jum'at, 11 Mei 2018

Segar sekali dan menginspirasi...serasa ditarik dengan kesibukan kaya manfaat. Salam kenal Mba dari Aini di Aceh

ika
ika
Jum'at, 11 Mei 2018

salam kenal mba aini. terima kash sudah mampir ya

Aulia Fauziah
Aulia Fauziah
Minggu, 12 November 2017

Ibu HRD emang keren, dengan segudang aktivitasnyaa. Semoga saya juga bisa memberikan banyak kebermanfaatan seperti cerita diatas ^^

Tambahkan Komentar