Home / Artikel 8 Cara Asyik mengelola Gadget Pada Anak

8 Cara Asyik mengelola Gadget Pada Anak

8 Cara Asyik mengelola Gadget Pada Anak

Parenting

Sabtu, 11 Agustus 2018

“ We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future”


–Franklin D. Roosevelt–


Pernah merasakan rebutan gadget dengan anak?

Pernah merasakan sulitnya melarang anak untuk tidak terus menerus bermain gadget?

Pernah tahu rasanya bagaimana memanggil anak untuk melakukan sesuatu saat anak bermain gadget ?

Pernah terperangah tentang informasi yang anak peroleh ternyata di dapat dari internet?

Pernah balik lagi ke rumah karena ketinggalan gadget?

---

Ya, gadget saat ini telah menjadi barang penting yang tak boleh tertinggal, nyaris harus selalu nempel kemana pun kita pergi. Lebih baik ketinggalan dompet dari pada ketinggal gadget, betul begitu mak? Hehehe. Anak-anak kita hidup di era digital, sederhananya, si batita tuh ga perlu lagi dikenalin tutorial membuka dan menggunakan gadget. Klik tombol ini untuk itu, masuk ke sini nanti akan muncul seperti ini. Tekan ini untuk menggeser gambar. Ga perlu, mak. Kenapa? Aiih, mereka bahkan bisa lebih jago, lebih gape dan lebih mengerti how to nya dari pada kita. Tanpa perlu diajarkan, mereka mampu menjalankan prosedur penggunaan layar pintar. Mengapa bisa demikian?


Bayangkan, anak kita itu melihat bagaimana ayah dan ibunya tak pernah jauh juga dari gadget dalam kesehariannya. Gadget tak pernah jauh dari genggaman. Di kamar, di ruang tamu bahkan saat berkendara bersama anak-anak pun, orang tua nyaris menggenggam gadget kesayangannya. Anak melihat bagaimana orang dewasa di sekitarnya menggunakan layar pintar itu. Menggeser ke kanan dan ke kiri, menekan tombol ini dan itu. Mereka melihat bahwa orang dewasa merasakan kesenangan tertentu saat menggunakannya. Kadang tertawa sendiri di depan gadgetnya, kadang bisa asyik sendiri dengan fasilitas yang ada di gadget. Mungkinkah ini yang membuat mereka benar-benar meng copy-paste, meniru apa yang kita lakukan?


Bisa jadi. Karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung, otaknya belum mampu memilah mana yang memang baik dan mana yang tak boleh ditiru. Maka adalah benar, bahwa pendidikan itu berawal dari kita, orang tuanya, orang dewasa terdekat yang ada dan paling sering berada di sekelilingnya.


Sebuah survey yang dilakukan oleh  Commone Sense Media melaporkan bahwa ternyata 78% orang tua menjadi model anaknya dalam berteknologi, termasuk di dalamnya penggunaan gadget dan internet. Tak hanya itu, mak,  survey itu blang bahwa orang tua menghabiskan 9 jam sehari dengan gadgetnya bukan untuk mengerjakan sesuai dengan pekerjaan, namun untuk bermedia sosial, nonton dan main games! Maka wajar kalau kemudian anaknya pun bermain gadget hingga 6 jam sehari. Common Sense Media merupakan sebuah organisasi non profit yang mendedikasikan untuk kepentingan pendidikan dan mengadvokasi keluarga untuk sehat dalam berteknologi bagi anak-anak.


Gadget dan internet pun sudah menjadi satu paket yang sulit sekali dilepas. Internet itu sesuatu yang mengagumkan, ia bisa memberikan keuntungan tak terbatas, mak.  Bayangkan bila anak-anak kita lepas pengawasan dari kita tanpa dibekali sesuatu untuk menghadapinya. Minimal kita memberikan bekal bagaimana memanfaatkan gadget dan internet dengan sehat. Mereka hidup di era serba digital, maka melarangnya bersentuhan dengan barang digital adalah sebuah kesalahan. Melakukan kerja sama yang baik untuk mengelolanya jauh lebih bijak. Lakukan bersama anak dengan membuat kesepatan akan jauh lebih bisa diterima dari pada melarangnya sama sekali untuk tidak bergadget ria.


Berikut ini cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengelola gadget bersama anak-anak, selamat mencoba.


1. Buat kesepakatan penggunaan gadget harian

Sebelum membuat kesepakatan. Buka dengan diskusi ringan beberapa hari sebelumnya, tentang gadget, efeknya bagi komunikasi di rumah dan sebagainya. Ceritakan mengapa Anda perlu membuat kesepakatan bersama keluarga terkait penggunaan gadget. Karena namanya kesepakatan, maka semua anggota keluarga berhak memberikan pendapatnya serta wajib mematuhinya, termasuk, Anda, orang tua. Contoh kesepakatan kami di rumah, tak ada gadget selama di meja makan, ruang keluarga, dalam kendaraan dan di kamar. Berapa lama penggunaan gadget harian dan sebagainya bisa didiskuskan pada anggota keluarga.


2. Ajarkan anak untuk menjaga dan menahan pandangan

Yuk, ajarkan anak untuk menjaga pandangan dan menjaga kemaluannya. Kalau kata bu Elly Risman, psikolog yang sangat aware dengan bahaya teknologi pada anak, jika otak sudah rusak, maka kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Tanyakan bagaimana perasaanmu hari ini? apa yang kau suka tadi pagi? Gunakan pertanyaan terbuka untuk memancingnya bercerita. Membiasakan berdiskusi saat senang dan sedih dengan anak akan membuatnya bercerita pada kita begitu ia merasakan sesuatu.


3. Letakkan PC atau komputer di ruang keluarga

Anak perlu tahu bahwa PC/leptop/tablet itu adalah barang milik bersama, maka meletakkannya di tengah keluarga artinya, anggota keluarga lain berhak menggunakan barang yang sama secara bergantian. Ssttt.... jangan lupa, arahkan layar PC ke arah yang bisa Anda lihat sambil lalu dari dapur atau saat berjalan menuju ruangan lain. 


4. Dampingi saat anak-anak bermain game

Mendampingi anak bukan berarti Anda harus duduk di sampingnya terus menerus selama anak bermain game. Namun mengedukasi sedikit demi sedikit mengenai konten permainan atau mau melibatkan adiknya berbagi peran dalam bermain bisa menjadi bagian saat Anda mendampingi mereka bermain. Sesekali ajukan pertanyaan saat anak bermain menggunakan gadget agar ia tetap 'sadar' bahwa ia berada di dunia nyata bersama Anda.


5. Arahkan pada aktifitas teknologi yang tepat guna

Saat Anda sedang berdiskusi dengan keluarga, bila menemukan sesuatu yang sulit, kekurangan informasi, Anda bisa mengajak dan melibatkan anak untuk mencari informasi yang dibutuhkan di internet bersama-sama. Memilih aplikasi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan serta usia anak juga bisa menjadi alternatif, uji coba dulu terkait aplikasi itu. Kalau dirasa aman untuk kemampuan dan usia anak Anda, maka berikan. Untuk anak usia baligh, mungkin situs edukasi ini bisa menjadi pilihan aktifitas bersama.


       6. Imbangi dengan aktifitas bergerak

Berikan kegiatan lain tanpa bersentuhan dengan gadget. Ajak ke tempat bermain di mana mereka bisa bersosialisai sesungguhnya dengan dunia nyata. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa cara belajar terbaik bagi anak di bawah usia 3 tahun adalah belajar dari dunia nyata, bukan dengan cara menonton layar. Sebab otak mereka memerlukan latihan dan variasi kegiatan. Bila mendongeng atau belajar melalui layar, kaitkan segera dengan mencari benda dalam belajar on line itu di dunia nyata, untuk memaksimalkan pembelajaran dan keseimbangan dunia maya dan dunia nyata.


Penelitian lain untuk anak jelang baligh, melibatkan anak-anak selama lima hari tanpa layar ternyata membuat peningkatan yang lebih baik ketika memahami emosi orang lain. Mereka tahu bagaimana menyikapi orang lain dengan baik. Cerita mereka yang mengikuti lima hari tanpa layar ini sangat beragam, tapi ada satu benang merahnya, bahwa tanpa gadget ternyata jauh lebih menyenangkan karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan teman sebaya. (buku media moms and digital dads karya Yalda T Uhis, MBA, Ph.D., hal. 71) 


7. Up date  segala informasi teknologi sesuai dengan usia anak Anda

Apa yang sedang berkembang di lingkungan anak-anak sekarang, juga wajib Anda ketahui. Bisa jadi, Anda pun bisa bertukar informasi dengan anak-anak terkait situs-situs yang mengasyikkan untuk di akses bersama dengan aman. Sederhananya, minimal sejajarkan informasi Anda dengan anak-anak mengenai informasi kekinian. Ini dia salah satu situs edukasi yang aman untuk anak. 7 situs edukasi untuk anak usia 3-12 tahun


8. Orang tua adalah panutan anak-anak

Ya, jadilah contoh yang baik bagi anak. Kesepakatan yang telah dibuat oleh keluarga, pastikan bahwa itu pun berlaku untuk ayah dan bunda. 


Ingatlah, bahwa kita tidak bisa menyiapkan masa depan untuk anak kita, tapi kita bisa menyiapkan anak-anak untuk masa depan. Saya teringat nasihat sahabat Nabi SAW bahwa didiklah anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu. Ya, mereka hidup di zaman yang sangat berbeda 180 derajat dengan zaman saat kita seusia mereka kini. Mengenalkan dan mengajarkan mereka sesuatu yang sesuai dengan zaman mereka kelak membuat kita, orang tua, harus terus bergerak dan mau belajar untuk menemani mereka tumbuh dan berkembang.


Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita di mana pun berada.

Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial