Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

“Permisi maas, maaf...maaf...aduh, maaf, permisi...” aku terus berlari, melompat dan melesat hebat di antara lalu lalangnya orang di gang sempit area pecinan ini. Kaki lincah ini seolah mengerti dan bisa diajak kerjasama untuk mengecoh empat laki-laki yang mengejarku. Seolah tak ada rasa lelah, aku benar-benar sangat menikmati adrenalin ketika melompat dan berlari. Gerakan-gerakan melompat jarak pendek lalu bersiap melakukan lompatan berikutnya banyak kulakukan. Posisi jalan dan bangunan yang tidak rata mendukung aksi seru kali ini. Sesekali melakukan underbar, melompat dan memiringkan badan diantara celah pembatas kios ke pembatas kios berikutnya, sepertinya membuat lelah laki-laki bertato itu dalam mengimbangi kecepatan lariku.


“Mba Wulaaan, meraaaah...” Kudengar aba-aba dari teman satu parkourku. Wah, mereka sudah memperkirakan kedatanganku!


“Okeee, makasiih, Jay!, siap yaa, aku dataaang!”


Hup! aku melompati tembok parbik tahu kira-kira satu setengah meter tingginya. Hanya bertumpu pada tangan dan tendangan kakiku ke tembok, aku pun membuang tubuhku ke balik tembok. Yes, berhasil!. Tak lama kemudian.


“Praak! Byuuurrr! Byuuurrr! Aaarrghhh”


“Yeaaayy! Dua sudah terbang ya, mbaaa”


Sorak sorai terdengar saat teman-temanku berhasil membuat pengejarku jatuh terperosok ke dalam kubangan limbah air tahu. Dua orang laki-laki bertato yang tidak mengira bahwa ada limbah tahu yang sudah dipersiapkan teman-temanku di balik tembok.


“Pyuuh... kurang ajar kalian! Hey, lewat sana, cepat kejar dia, cepaat!” Gerutu salah seorang laki-laki yang sudah basah kuyup.


Sepertinya, ketua kelompok yang mengejarku mulai terlihat sangat marah. Ah, masa bodoh, yang kupikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa menemukan Bintang, kakakku. Semoga dia sudah berada di rumah hijau dalam keadaan aman dengan tas itu.


“Aduuuh, maaf bu maaf, ga sengaja” Teriakku sambil mengapitkan kedua telapak tangan ke arah ibu penjual buah yang nyaris saja kutabrak.


Sedikit tersenggol hentakan kaki kiriku tadi saat menjatuhkan diri dari undakan tangga tak jauh dari limbah tahu. Aku terus berlari menjauh dari kejaran dua laki-laki bertato. Sesekali aku melihat ke belakang.


“Aah, orang-orang itu masih juga mengejarku” bisikku.

“Mbaaa, awaaas !” Teriak seorang ibu padaku.

Dan “braakk.... Aduuh.”


Aku jatuh, terguling menabrak tumpukan galon kosong toko Wang Lei di ujung jalan. Galon-galon itu berserakan, koh Wang Lei keluar dari tokonya bersegera menolongku berdiri dan menyuruhku masuk ke tokonya. Bukan omelan yang kudapat malah pertolongan yang datang. Aih, bersyukur sekali aku.


“Hey, itu dia anaknya” teriakan laki-laki bertato itu membuyarkan rasa sakitku seketika.

“ Ah Cik , lempar galonnya!” Perintah koh Wang Lei pada pamannya.


Dengan sigap paman itu menghalau dua laki-laki yang mengejarku. Galon-galon kosong dilemparkannya ke arah laki-laki bertato itu. Tak hanya itu, koh Wang Lei pun mengejar laki-laki bertato itu sambil mengangkat-angkatkan galon kosong dengan tangannya. Teriakan-teriakan dalam bahasa china, keluar dari mulutnya. Entah apa artinya, aku tidak tahu. Tak ayal, aksi mereka berdua membuat dua laki-laki bertato itu balik kanan, pengejaran mereka pun sia-sia. Aku hanya termangu melihat kejadian barusan. Aku hanya bisa terdiam menahan sakitnya lutut kanan ini. Kulihat, darah segar mulai mewarnai celana panjang biruku.


“Wulan, lututmu berdarah. Cici, tolong ambilkan kotak obat di lemari kaca.” Teriak koh Wang Lei pada anak perempuannya.

“Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri, koh.”

Sambil mengernyitkan dahi, aku mulai berfikir, mengapa tiba-tiba koh Wang Lei baik sekali padaku. Ini aneh.


Ah, tidak, kali ini aku patut bersyukur. Hari ini teman-teman parkourku sudah banyak membantu, belum lagi dengan bantuan koh Wang barusan. Ah, tetap saja, rasa anehku dengan perubahan sikap koh Wang menjadi perhatianku saat ini.


Koh Wang itu, terkenal dengan orang yang sangat galak dan ditakuti oleh penduduk sekitar sini. Bila kau melihat tatapan mata kecilnya yang tajam, itu membuatmu seperti akan dilumat-lahapkan seketika. Entahlah, hatiku mengatakan ini aneh.

-bersambung-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial