Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

"Tidaaak..., aku tidak mau kembali."

Aku tiba-tiba berteriak saat eyang mulai mengingatkanku untuk segera kembali pulang.


"Aku masih ingin di sini sama eyang dan bu lek. Aku tidak mau kembali ke sana lagi. Aku sudah capek mencari ibu."
Tangisku pun pecah saat eyang datang menghampiriku dengan pelukan hangatnya. Pelukan yang sama saat aku menangis mengadu mencari ibu hingga ke Madiun 9 tahun yang lalu. Namun belum juga kutemukan hingga kini.


"Aku selalu merasa bersalah pada Wulan, yang. Semua ini gara-gara aku yang egois untuk mengajaknya pergi mencari ibu. Gara-gara aku, kami berdua jadi ga sekolah. Gara-gara aku, kami berpindah tempat tinggal dari satu kota ke kota lain. Eyang tahu kan bagaimana perjuangan kami pergi ke tempat-tempat yang mungkin saja disinggahi ibu. Tapi ternyata sampai hari ini, kami belum juga menemukan jejak ibu di mana. Apa benar kata orang-orang, bahwa memang ibu sengaja meninggalkan kami karena kami adalah anak perempuan?"


Tangisku makin pecah setiap ingat peristiwa itu. Betapa aku kadang sulit memaafkan diriku sendiri. Karena hanya tinggal ibu yang kami miliki. Hasrat ingin selalu menemukan ibu tak pernah padam ditelan waktu. Ayah buat kami sudah tidak ada. Nyaris 10 tahun saat pertama kali ayah pamit pergi ke ladang, kami tak pernah mendengar kabarnya lagi, hingga saat ini. Entahlah.


"Bintang, setiap orang pasti punya kisahnya sendiri-sendiri. Eyang percaya, Allah sudah mengatur pertemuan kalian dengan ibu di tempat dan waktu yang tepat. Allah mboten sare, nduk. Semua, kerja keras dan doa kalian, pasti akan Allah bayar. Bersabar lah, nduk."


"Eyang tahu? sudah beberapa hari ini Bintang berpisah dengan Wulan saat ini?. Entah ada dimana Wulan sekarang. Kesalahan ini semakin menyulitkan Bintang untuk memaafkan diri sendiri."
Tangisku semakin menjadi.


"Lepaskanlah, cah ayu, ceritakan semua sedihmu pada eyang. Ingat nak, Allah itu Maha Pemaaf. Masa kita sebagai mahluk yang diciptakanNya tidak mau memaafkan diri sendiri. Ini bagian dari perjalanan menempa kebaikan kalian. Sudah lah, segera kemasi barang-barangmu, lekas kembali, temukan Wulan dulu. Ingat-ingat saat peristiwa terakhir bersama Wulan, apa yang kalian bicarakan." Panjang lebar eyang menasehatiku sambil terus mengusap lembut punggungku.


Betul, semakin kupikirkan, aku semakin bersalah dan sulit memaafkan diri sendiri. Ya Allah, lega rasanya setelah menceritakan semua yang tertanam dalam dada pada eyang. Aku mulai belajar memaafkan diriku sendiri atas semua kejadian ini. 9 tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar menerima kesedihan yang luar biasa. Pelan-pelan hati ini terasa damai, tenang tanpa gejolak.


"Bintang.... Bintang, buka matamu, nak...ini mamak. Oh, ya Allaah, akhirnya Allah mendengar doaku. Kau sudah membuat mamak takut. Hampir seminggu kau terbaring di sini."


Mataku mulai terbuka perlahan. Aku merasakan lelah yang luar biasa, seperti habis melakukan perjalanan jauh.


"Aku ada di mana ini?"


-bersambung-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial