Home / Artikel Buku anak bridge to Terabithia

Buku anak bridge to Terabithia

Buku anak bridge to Terabithia

Resensi Buku Anak

Jum'at, 09 November 2018

"Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum pernah membacanya ."

Buku yang layak dibaca oleh anak saat ini sangat berlimpah. Bahkan bisa dikatakan tsunami buku anak. Alih-alih ingin menyenangkan dan mendekatkan anak pada buku, ternyata isi dan pemilihan diksi dalam buku anak tidak sesuai dengan usianya. Berharap anak mendapatkan manfaat kebaikan malah berbalik dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan seputar isi, diksi atau mungkin gambar yang ada yang penempatannya tak sesuai usianya.  Sebagai orang tua tentu harus membaca terlebih dahulu atau minimal tahu buku yang akan dibaca oleh anak. Baca sinopsisnya, lalu bergerak ke daftar isi, dan terakhir, scan bacaan yang di dalamnya lalu simpulkan, butuhkah anak Anda untuk memiliki buku ini?


Nah, ada satu buku bacaan anak, klasik yang direkomendasikan banyak orang. Buku yang ditulis oleh Katherine Paterson ini rilis tahun 1972 dan telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa di dunia. Masuk ke Indonesia baru di Desember 2016. Ga ngerti juga kenapa buku sebagus ini baru masuk terjemahannya 44 tahun kemudian. Pemegang hak cipta penterjemahan dan perbanyakan ada di penerbit PT Mizan Publika di Bandung. Buku setebal 236 halaman dengan size font besar dan cerita yang anak-anak banget dengan daya khayal yang khas ini sampai meraih 8 penghargaan tingkat dunia yang bergengsi kala itu. Ini dia beberapa penghargaan yang diraih buku Bridge to Terabithia :


1. Le Grand Prix des Juenes Lecturs (Prancis), 1986

2. 1986 Colorado Blue Spruce Young Adult Book Award

3. Janusz Korczak Medal (Polandia), 1981

4. Silver Pencil Award (Belanda), 1981

5. Newbery Medal, 1978

6. Leweis Carroll Shelf Award, 1978

7. ALA Notable Children's Books,1977

8. School Library Journal Best Book of 1977  


Dan pada tahun 2007, oleh Walt Disney, kisahnya diangkat ke layar lebar. Pemain-pemain cilik saat itu seperti Josh Hutcherrson yang membuat di tahun 2008 memenangkan Young Artist Award, Best Performance in a Feature Film. Dan Pemeran anak perempuannya, Anna Sophia Robb pun mendapatkan penghargaan sebagai Young Artist Award for Best Leading Young Actress in a Feature Film. Efek main di film Bridge to Terabithia para pemainnya menyabet penghargaan itu. Keren kan. 


img-1541714937.jpg

Ini penampakan buku aslinya


Penerjemah buku ini sangat baik dalam pemilihan diskinya. Ga kaku dan bisa dimengerti anak-anak. Peruntukannya menurut saya, layak dibaca mulai anak usia SD.  Dalam setiap babnya tak perlu tebal dan panjang-panjang menceritakan tentang sesuatu. Enak dibaca dengan alur maju. Penjabaran keseruan akan daya khayal yang dituangkan pun membuat pembaca menikmati halaman demi halaman . Dan tentu saja penggambaran di kepala pembaca bisa jadi lebih liar dan seru daripada saat Anda menonton filmnya.


Cerita khas tokoh utama, Jess yang menggambarkan anak usia SD mendapatkan perlakuan buruk di sekolah atau di rumah. Bullying dalam bentuk verbal terjadi di rumah. Orang tua yang hidupnya pas-pas an dan hanya menampakkan kasih sayang pada adik kecilnya membuat olah raga lari menjadi pelariannya. Bullying verbal dan non verbal pun dirasakan Jess di sekolah. (Kisah lain tentang bullying  akan mempengaruhi hidup anak, bisa dibaca di sini). Namun semua berubah saat hadirnya siswi baru yang bersamanya Jess merasakan bahwa dirinya merasa dihargai atas apa yang ia miliki. Yang akhirnya mereka membuat permainan dan keseruan sendiri, khasnya anak-anak. Berimajinasi yang dituangkan dalam bentuk gambar oleh Jess dan melakukan keseruan permainan di hutan belakang rumah mereka.


Pembelajaran dari kisah Jess ini bisa diambil dari beberapa sisi. Sebagai orang tua untuk tidak pilih kasih terhadap anak-anaknya. Komunikasi produktif yang perlu dibangun sekalipun ayah sibuk bekerja, perhatian dan kasih sayang tetap harus ada di tengah keluarga. Dari sisi ibu pun demikian, dari buku itu terlihat kehebohan di pagi hari, khasnya emak-emak jelang anak berangkat sekolah adalah menyegerakan semua aktifitas yang berhubungan dengan sekolah, buku, sarapan, mandi dan sejenisnya. Ini membuat suasana gaduh dan kacau di pagi hari, berefek hingga anak-anak di sekolah.  Bagi Jess, siswa kelas 5 SD yang memiiliki dua orang adik, ia diminta membantu mengasuh adiknya yang duduk di kelas 1 SD. Kasih sayang dan perhatian Jess terhadap adiknya patut diacungi jempol. Walau pertengkaran layaknya kakak dan adik pun muncul di buku ini, tapi penulis mampu menghadirkan hikmah dari setiap kejadian. 


img-1541716985.jpg

Katherine Paterson

Visualisasi kisah ini dalam filmnya mampu menerjemahkan keseruan daya khayal dan fantasinya anak. Sisi dari kisah bullying nya pun digambarkan dengan cara yang halus dan selalu ada kata kunci (baik verbal atau non verbal) saat terjadi bullying. Misalkan saat Jess diolok-olok jelek di akademik, teman lainnya menimpali dengan ucapan "Tapi kau tak bisa mengalahkannya dalam setiap lomba lari cepat." Tapi tetap saja film ini perlu pendampingan orang tua ya.

img-1541716257.jpg
Cover film Bridge to Terabithia

Baik buku atau filmnya, saya rekomendasikan untuk menjadi pilihan bacaan atau tontonan anak. Bukunya yang ukurannya tak terlalu besar, nyaman dan enak dipegang oleh anak-anak. Cover hijau  yang memperlihatkan keseruan dua anak bermain menjadi daya tarik tersendiri. Katherine mampu menghadirkan keseruan bersahabat dalam kisahnya di Bridge to Terabithia. Mengapa judulnya 'jembatan menuju Terabithia' inilah yang perlu anak-anak tahu keseruannya, mungkin termasuk Anda, mak.

Sudah bacakah bukunya?

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial