Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

“Subhanallah...mba Wulan sudah besar sekarang, sudah remaja. Bagaimana kabarmu, kak?”


Panggilan khas itu, aku kenal. Ada satu sosok yang memang dekat dengan kami berdua sejak kami baru merantau di kota ini. Beliau memanggil aku dengan panggilan ‘mba’. Sepertinya aku kenal dengan suara itu. Aku langsung membalikkan tubuhku ke sumber suara.


“Kenal kah kau, nak, dengan beliau?” tanya abah.


Ya Allah, Engkau Maha Baik. Belum kering air mata ini Engkau mengirimkan orang kedua yang kami cari selama ini. Tante Mita, adik kandung ibu. Bertiga kami berpelukan, lepas semua sedih dan gundah mencari. Minimal terbayar dengan kehadiran sosok tante Mita.


“Ayo, masuk ke rumah sekarang, jangan di luar gini, ga enak dilihat orang.” Ajak mamak pada kami semua.


Saat di dalam rumah, kami melepas rindu, melepas kisah selama mencari kabar ibu yang belum berujung pada tante Mita. Tangis bahagia, sedih dan senang campur aduk menjadi satu. Berkali-kali tante Mita meminta maaf pada kami karena telah menelantarkan kami.


“Kau tahu rasanya pergi tanpa diperkenankan untuk pamit pada keponakan kesayangan? Belum lagi kemudian tante tahu kalau kalian pergi mencari ibu. Tante juga tahu kalau kalian pergi ke rumah tante, ke rumah bude, ke rumah teman-teman ibu. Tapi semua jawaban yang keluar, pasti sama. Itu karena demi kami menyelamatkan keluarga kalian dari kelompok Wang. Mereka sudah sejak lama mengincar benda yang telah lama disimpan ibu di biliknya. Benda itu yang akan membuka rahasia tentang dusun ini yang berhubungan dengan kalian berdua.”

Jelas tante Mita panjang lebar. Aku masih belum bisa menangkap inti pembicaraannya. Entah lah, banyak kejadian yang sedang menari-nari di kepalaku saat ini.


‘Kau tahu ini kah, mba?”


Tiba-tiba tante Mita mengeluarkan benda kotak kecil, suara gemerincing itu sangat ku kenal. Aku dan kak Bintang saling berpandangan. Kotak berukuran kira-kira satu jengkal tanganku itu dikelilingi bulatan-bulatan kecil di sepanjang pinggirnya. Didalam bulatan itu seperti ada sesuatu yang bila kau goyangkan, akan mengeluarkan suara gemerincing seperti gemerincingnya alat yang digunakan penari adat pada pergelangan kaki kanannya. Di sudut kotak itu terdapat bulatan besar sebesar kepalan tangan yang berwarna keemasan yang sudah pudar termakan usia. Masing-masing bentuk itu memiliki lubang di atasnya.

Sesekali tante Mita membolak-balikkan benda itu sehingga menimbulkan suara gemerincing, seisi ruangan pun terlihat terkesima dengan benda yang diperlihatkannya.


“Kak Bintang, mba Wulan, kalian tahu apa ini?” Wajah mungilnya menampakkan wajah yang serius pada kami berdua.


“Bintang ingat suara gemerincing itu saat lari membawa tas ransel hitam. Tapi waktu kemarin abah kasih tas itu, benda ini tuh ga ada.”


“Iya betul, kak. Benda ini ada dalam tas ransel itu. Dan ini diamankan oleh bang Muslih saat menyelamatkanmu tempo hari. Bang Muslih khawatir benda ini akan ditemukan oleh kelompok Wang. Karena isinya akan membongkar kedok mereka selama ini terhadap ayahmu. Dan hanya kalian berdualah yang bisa membuka benda ini lalu kita akan menemukan jawabannya mengapa ibu kalian pergi tanpa ada kabar apapun hingga saat ini.”


Tante Mita memberikan benda antik itu padaku. Kotak cantik ini kubolak balikkan hingga suara gemerincing ini memenuhi ruang tengah rumah abah. Aku ingat saat kami masih kecil. Ibu pernah memarahiku saat aku ingin mengambil benda ini dari lemarinya. Saat itu, aku terhipnotis dengan suara gemerincingnya. Namun ibu berkata, bahwa saat aku berusia 17 tahun, benda ini akan ibu berikan pada kami berdua. Itu yang membuat kami beradu pandang. Seperti teringat masa itu.


“Tante Mita, bagaimana cara membukanya?” tangan kananku menarik sudut kotak ini ke arah atas, berharap bisa terbuka. Aah, tak berhasil juga aku menarik ujungnya. Semua sudut telah kucoba, begitu pula kak Bintang. Menarik bulatan-bulatan yang ada di pinggir kotak itu pun tak berhasil.


“Wulan, coba lihat kalungmu, cepet, keluarkan!”

Setengah berteriak, kak Bintang memintaku untuk mengeluarkan kalung yang selalu kupakai sejak kecil.


“Kau lihat lubang ini? Ini seperti bandul pada kalung yang kau gunakan. Lihat bulatan di bawah kotak ini.”

Sambil menunjuk cekungan berbentuk setengah bulatan yang memiliki lubang-lubang kecil di tengahnya, kak Bintang menempelkan bandul kalung ku pada cekungan itu. Aah...pas sekali. Tapi baru separuh sisi kotak ini yang bisa kutarik.


“Kak, gelangmu, kak, mana gelang kakak...”

Kali ini Wulan mengingatkan gelang besi yang selalu kupakai sejak kecil. Gelang berwarna hitam mengkilap dengan hiasan kepala burung bangau yang timbul  di sepanjang gelang itu semakin mempercantik bentuk gelang itu.


Kak Bintang pun melepas gelangnya, ukiran kepala burung bangau itu ia tempelkan pada sisa lubang cekungan di samping bandul kalung, lalu “Klik!”. Tiba-tiba ujung kotak itu terbuka. Kami berdua saling berpandangan. Demikian juga semua orang yang ada di ruang tengah ini dibuat terpana oleh isi kotak ini. Semua terdiam, seolah-olah nafas berhenti sepersekian detik demi menunggu kak Bintang membuka lebar penutup kotak itu.


“Ya Allah, Wulan, lihat ini....lihat! Ini sesuatu yang dulu sering kita bicarakan!. Ini adalah benda yang kita hadiahkan pada ayah dan ibu!. Lihat, Wulan, ingatkah kau pada benda ini?”


Pekik suara kak Bintang menebas keheningan siang itu. Matanya berkaca-kaca, air matanya nyaris tumpah lagi.
Mataku pun terbelalak seakan tak percaya benda yang dulu kami persembahkan pada ayah dan ibu, ada di dalam kotak antik itu. Benda yang sangat berharga sampai-sampai ibu tidak mengijinkan kami menyentuhnya, karena khawatir rusak.


Aku pun beringsut mendekat ke arah kotak itu, rasa rindu selama ini seolah akan berakhir dengan menyentuhnya.


"Ibu...ayah...Wulan kangen." Bisikku sambil menyentuh benda itu.


-season 1 tamat yaa-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial